Somalia

Warga AS dan Kanada Direkrut Jaringan Teror

Kompas.com - 28/07/2011, 03:52 WIB

Kairo, Kompas - Isu Somalia kembali mencuat. Tidak hanya menyangkut kelaparan yang kini menghebohkan dunia, tetapi terkait isu klasiknya, yaitu terorisme. Komite Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat yang dilansir kantor berita AP, Rabu (27/7), melaporkan, lebih dari 40 warga AS dan 20 warga Kanada direkrut jaringan Tanzim al Qaeda di Somalia dan telah berada di negeri itu.

Anggota kongres partai Republik dari wilayah New York, Peter King, berencana membahas hasil investigasi komite tersebut pada dengar pendapat ketiga di forum kongres tentang isu Muslim radikal di AS. King menyatakan, keberhasilan merekrut dan meradikalisasi puluhan warga Muslim-AS merupakan ancaman langsung terhadap AS.

”Kami harus menghadapi sebuah realita bahwa gerakan Al Shabab adalah ancaman yang terus meningkat terhadap tanah air kita,” kata King.

Pejabat antiteroris AS tidak menyebut secara pasti berapa jumlah warga AS yang bergabung dalam gerakan Al Shabab Mujahidin. Namun, sedikitnya 21 warga AS asal Somalia telah berangkat menuju Somalia dan terlibat dalam pertempuran mengusir pasukan penduduk Etiopia.

Al Shabab tahun lalu mendeklarasikan dirinya berafiliasi pada Tanzim Al Qaeda. Gerakan ini mengklaim bertanggung jawab atas dua serangan bom bunuh diri di Uganda tahun lalu dan serangan atas beberapa sasaran Barat.

Dalam konteks aktivitas teroris yang dilakukan warga AS asal Somalia, dilaporkan ada 4.000 warga Somalia masuk AS sejak tahun 2006. Selain itu, ada 200.000 warga Somalia yang berhasil mendapat suaka politik di AS sejak awal tahun 1990-an.

Pada tahun 2009, sejumlah besar warga Somalia di AS tiba-tiba menghilang. Mereka kemudian diketahui kembali lagi ke Somalia untuk bergabung dengan milisi radikal Al Shabab yang menganut paham Jihad Salafi. Mereka kini melancarkan serangan terhadap kepentingan AS di Somalia dan Afrika Timur.

Berdasarkan data statistik AS, 51 persen pemuda Somalia di AS dililit kemiskinan dan pengangguran, dengan rata-rata pendapatan keluarga Somalia di AS hanya 21.000 dollar AS per tahun. Adapun pendapatan rata-rata keluarga di AS sekitar 60.000 dollar AS per tahun. Hal itu membuat komunitas Somalia di AS berpotensi besar dihinggapi paham radikal.

Diperkirakan, ada ratusan sukarelawan asing berasal dari mancanegara yang bergabung dengan kelompok Al Shabab Mujahidin di Somalia.

Al Shabab terakhir ini sering meniru Tanzim Al Qaeda dalam melakukan operasi serangannya, seperti aksi bom bunuh diri, penanaman bom di jalan-jalan, dan peledakan di tempat-tempat publik. Hal itu misalnya ledakan dahsyat di sebuah hotel di Mogadishu, ibu kota Somalia, 3 Desember 2009. Ledakan dahsyat tersebut menewaskan sembilan orang, termasuk tiga menteri pemerintahan transisi dan dua wartawan.

Diduga kuat, ledakan di hotel tersebut adalah hasil koordinasi antara kelompok Al Shabab dan jaringan Al Qaeda. (mth)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau