Penting, Persiapan Puasa bagi Pasien Diabetes

Kompas.com - 28/07/2011, 10:41 WIB

JAKARTA,KOMPAS.com — Anda yang menderita diabetes dan sebentar lagi ingin menjalankan ibadah puasa, tak perlu waswas dan khawatir dengan kondisi Anda sekarang. Pada dasarnya, setiap orang dapat melakukan puasa, baik untuk mereka yang sehat maupun mempunyai masalah kesehatan.

Hal terpenting yang harus dilakukan bagi  penderita diabetes jika ingin melakukan ibadah puasa adalah persiapan dari jauh-jauh hari, dalam hal ini pengkajian dan konseling pra-Ramadhan.

"Sebaiknya sejak 2-4 bulan sebelum puasa ada baiknya Anda melakukan pengkajian kontrol metabolik, stratifikasi risiko, penyesuaian terapi untuk siap puasa, dan edukasi (mengetahui gejala hipoglikemia dan hiperglikemia, meal planning, dan pengelolaan komplikasi akut)," kata dr Tri Juli Tarigan SpPD dari Divisi Metabolik Endokrin, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rabu (27/7/2011).

Menurut Tri, keputusan untuk puasa atau tidak puasa pada pengidap diabetes sifatnya adalah individual, sedangkan dokter dalam hal ini hanya memberikan saran. Oleh karena itu, penting untuk melakukan persiapan jauh hari, misalnya, konsultasi dokter sebelum Ramadhan tiba.

Tri menambahkan, beberapa hal yang harus diwaspadai bagi penderita diabetes yang melakukan puasa di antaranya risiko gula darah terlalu rendah atau hipoglikemia, gula darah terlalu tinggi (hiperglikemia), darah menjadi asam, dan kekurangan cairan sehingga timbul bekuan di pembuluh darah.

"Ini adalah hal-hal yang harus diwaspadai bagi mereka penderita diabetes yang ingin melakukan puasa," ujarnya.

Pengaturan makan selama puasa pada penderita diabetes, menurut Tri, perlu mendapat perhatian. Caranya adalah makan sehat dan seimbang, menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur, minum cukup 8 (delapan) gelas, porsi kalori (50 persen saat berbuka), 10 persen setelah tarawih, dan 40 persen saat sahur), dan kurangi asupan lemak, perbanyak serat.

Tri mengingatkan, selama puasa, penting untuk penderita diabetes melakukan monitor gula darah. Selama ini, banyak pasien tidak mengecek gula darah karena ada anggapan akan membatalkan puasa. Padahal, periksa gula darah sama sekali tidak membatalkan puasa.

Periksa gula darah perlu lebih ketat terutama saat ada gejala hipoglikemia dan hiperglikemia. Cek gula sebaiknya dilakukan sebelum sahur, 2 jam sesudah sahur, sebelum berbuka, dan 2 jam setelah buka puasa.

Hasil pemeriksaan gula darah, kata Tri, dapat menjadi patokan untuk penderita diabetes membatalkan puasanya. Berikut adalah patokan gula darah yang dapat dipertimbangkan untuk membatalkan puasa pada pasien diabetes.

1. Jika gula darah turun menjadi 60 mg/dl atau kurang.

2. Gula darah turun di sekitar 70 mg/dl di jam-jam awal, terutama pemakaian insulin, sulfonilurea, atau glinid yang dipakai saat sahur.

3. Gula darah naik lebih dari 300 mg/dl.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau