30 Gajah Duduki Kebun Warga

Kompas.com - 29/07/2011, 07:34 WIB

LIWA, KOMPAS.com — Puluhan gajah liar merusak ratusan pohon kelapa milik warga Desa Pemerihan, Kecamatan Bengkunat Belimbing, Lampung Barat, Lampung, hampir setiap malam selama beberapa waktu terakhir.

"Hampir setiap malam puluhan gajah liar merusak ratusan batang tanaman kelapa," kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, melalui Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah II Achmad Sutardi, di Bengkunat, Jumat (29/7/2011).

Jumlah gajah liar yang merusak pohon kelapa itu sekitar 30 ekor. Selain itu, katanya, binatang itu juga merusak tanaman kakao dan sayuran milik petani setempat yang memasuki masa panen sehingga petani setempat menderita kerugian cukup besar.

Ia menjelaskan, selama sebulan terakhir puluhan gajah liar tersebut tidak beranjak dari lahan pertanian dan perkebunan warga sehingga kerusakan pertanian mereka semakin meluas.

Petani setempat, menurut dia, mengalami kerugian cukup besar karena tanaman mereka rusak dan tidak dapat dipanen.

"Meskipun melihat lokasi lahan perkebunan berada di dalam hutan kawasan, masyarakat setempatlah yang menanam komoditas tersebut," katanya.

Ia mengakui, petugas hanya bisa menghalau gajah liar tersebut agar tidak masuk perkampungan dan merusak pemukiman warga. Puluhan gajah tersebut tidak beranjak dari area perkebunan akibat pasokan makanan di hutan berkurang. Kerusakan hutan di kawasan setempat mengakibatkan pasokan makanan untuk satwa berkurang.

"Memang tidak dimungkiri, konflik hewan dan manusia terjadi akibat kerusakan hutan yang semakin meluas di daerah ini sehingga membuat satwa tersebut tidak ada lagi tempat perlindungan. Selain itu, kerusakan hutan itu membuat pasokan makanan gajah liar itu semakin berkurang sehingga tanaman warga yang menjadi sasaran satwa liar tersebut," katanya.

Hingga saat ini, menurut Sutardi, petugas terus melakukan pengawasan terhadap puluhan satwa liar itu. Pasalnya, hampir setiap malam puluhan gajah liar tersebut mengamuk dan merusak di lokasi itu. Sebanyak 12 petugas patroli gajah dibantu masyarakat setempat terus menghalau puluhan gajah sebab lokasi satwa liar itu berada dekat dengan area pemukiman.

"Petugas yang berjaga hampir kewalahan menghadapi puluhan gajah liar itu sebab hampir setiap malam satwa liar tersebut merusak tanaman dan mendekat di lokasi pemukiman sehingga kami tidak bisa lengah dalam mengawasinya," katanya.

Ia mengharapkan, persoalan yang dihadapi warga setempat segera selesai sehingga mereka dapat beraktivitas secara normal. Hingga saat ini, kedatangan puluhan gajah liar di tempat itu tidak menimbulkan korban jiwa, tetapi diprediksi kerugian akibat satwa liar tersebut mencapai puluhan juta rupiah.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau