Bbm langka

SPBN Bangkrut, Nelayan Kesulitan Solar

Kompas.com - 29/07/2011, 18:11 WIB

BANJARMASIN, KOMPAS.com — Ratusan nelayan di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, kesulitan mendapatkan solar karena stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) tutup sejak beberapa bulan lalu.

Hal tersebut disampaikan pemilik SPBU di Kabupaten Tanah Laut yang juga Wakil Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Kalimantan Selatan, Hendro Sugiato, di Banjarmasin, Jumat (29/7/2011).

Menurut dia, SPBN milik perusahaan daerah yang sebelumnya dibangun di daerah Takisung atau di dekat pesisir pantai Kabupaten Tanah Laut terpaksa tutup karena terus mengalami kerugian.

Menurut dia, SPBN tersebut tidak mampu memenuhi jumlah konsumen sebagaimana SPBU di daerah perkotaan sehingga akhirnya bangkrut.

Bangkrutnya SPBN tersebut kini membuat ratusan nelayan kesulitan untuk mendapatkan solar dengan harga yang terjangkau. Kalaupun ada, mereka harus ke kota Pelaihari yang jaraknya cukup jauh.

Selain jauh, kata Hendro, nelayan juga tidak bisa mendapatkan solar dalam jumlah yang memadai karena adanya peraturan SPBU tidak boleh melayani pembelian dengan jeriken. "Kini para nelayan tersebut terpaksa membeli di eceran dengan harga yang jauh lebih mahal," kata Hendro.

Di SPBU, nelayan bisa mendapatkan solar bersubsidi dengan harga Rp 4.500 per liter, jauh lebih murah dibandingkan solar nonsubsidi yang mencapai Rp 9.500 per liter.

Untuk harga solar di eceran sekitar Rp 7.500 per liter, itu pun dengan jumlah yang cukup terbatas. Kondisi tersebut membuat sebagian nelayan kini hampir kehilangan mata pencariannya.

Sementara untuk mendapatkan pekerjaan lain, seperti sektor pertanian, tidak memungkinkan karena daerah Takisung bukanlah daerah subur untuk pertanian.

Membantu nelayan menghadapi hal tersebut, kata Hendro, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan pemerintah daerah, Pertamina, dan pihak terkait. Namun, hingga kini belum ditemukan solusi yang bisa meringankan nelayan.

Salah satu solusi adalah dengan memberikan kupon khusus kepada nelayan agar bisa mendapatkan solar subsidi di SPBU dengan menggunakan jeriken, karena nelayan tidak mungkin membawa kapal ke SPBU.

Namun, tambah dia, solusi tersebut belum bisa dijalankan karena akan kembali diadakan pertemuan untuk mendapatkan solusi terbaik yang tidak memberatkan nelayan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau