Irigasi

Air Waduk dan Telaga Mulai Menyusut

Kompas.com - 29/07/2011, 18:27 WIB

GRESIK, KOMPAS.com — Sejumlah waduk dan telaga air minum di Kabupaten Gresik menyusut. Padahal, keberadaan waduk itu vital untuk pertanian. Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Gresik, Asikin Hariyanto, Jumat (29/7/2011), menyatakan, pada musim kemarau seperti saat ini perlu normalisasi pengairan, persiapan sarana, dan normalisasi drainase.

"Sejumlah waduk juga mengalami pendangkalan dan terancam rawan ambrol. Waduk Bunder seluas 92 hektar dengan kapasitas 2,465 juta meter kubik tinggal terisi 45 persen. Luas waduk juga menyusut karena mengalami pendangkalan," katanya.

Persediaan air di Waduk Belahanrejo, Waduk Tanjung, dan Waduk Kedamean di Kecamatan Kedamean juga menipis. Keberadaan waduk yang berfungsi menampung air banyak yang bergeser menjadi lahan pertanian atau tambak sehingga fungsi waduk tidak optimal dan debit airnya menyusut. "Waduk yang menyusut justru digunakan sebagai areal tambak atau sawah," katanya.

Kondisi tidak optimalnya fungsi waduk terlihat di Waduk Paco seluas 7,5 hektar dan Waduk Ngasin 7,5 hektar di Kecamatan Balongpanggang.

Alih fungsi lahan waduk menjadi salah satu penyebab beberapa waduk rawan jebol karena kondisi tanah yang digemburkan. Perubahan fungsi tanggul membahayakan karena kekuatan tanggul berkurang sehingga saat musim hujan rawan tergerus dan ambrol.

Dua waduk peninggalan Belanda yang berpotensi rawan jebol adalah Waduk Joho di Kecamatan Duduksampeyan dan Waduk Gedangkulud di Kecamatan Cerme. Waduk Gedangkulud dengan luas 52 hektar menampung kapasitas air mencapai 1,52 5 juta meter kubik untuk irigasi di Desa Gedangkulud, Wedari, Paget, Banjarsari, dan Cagakagung.

Waduk ini berada di permukaan tanah agak tinggi, dilengkapi pendeteksi tinggi air dan ada saluran pembuangan. Bila air penuh, kelebihan air dialirkan melalui saluran pembuangan.

Irigasi di Gresik mengandalkan waduk, seperti Waduk Banjaranyar di Bunder, Kecamatan Cerme, dan Waduk Sumengko, di Kecamatan Duduksampeyan. Waduk Banjaranyar atau lebih dikenal Waduk Bunder bisa mengaliri sawah seluas 581 hektar. Areal lahan Waduk Sumengko seluas 218 hektar dengan kapasitas 8,22 juta meter kubik mengaliri 1.146 hektar sawah.

Keseimbangan, volume dan ketersediaan air, usia waduk dan manfaat bagi masyarakat sekitar serta pola tanaman warga perlu dikaji. Kondisi lima waduk tersebut masih dibutuhkan warga karena lahan di sekitarnya sangat bergantung pada waduk, baik untuk pertambakan ataupun persawahan.

Pola tanam mengikuti ketersediaan air waduk. Saat ini kebanyakan sawah di Gresik dibiarkan tidak ditanami karena diperkirakan ketersediaan air tidak mencukupi. Banyak lahan dibiarkan bero, kata warga Metatu, Kecamatan Cerme, Markum.

Selain waduk mengering, sejumlah telaga penampung air di Benjeng, Duduksampeyan, dan Balongpanggang juga mengering. Air yang tertampung dalam telaga di Metatu selain digunakan untuk mandi juga digunakan untuk memasak. Bila terisi air, warga mengambil air dari telaga menggunakan jeriken kemasan 25 liter. Air diangkut sepeda kayuh, dengan geledhekan (gerobak dorong), atau dipikul.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau