KUDUS, KOMPAS
Penyakit CSD disebabkan oleh virus. Pada tebu yang terserang penyakit itu akan muncul garis berombak yang tidak beraturan, dengan warna kuning hingga putih di daunnya sehingga tebu tidak tumbuh normal.
Kepala Bagian Pengolahan Pabrik Gula (PG) Rendeng RB Agus Wasisto, Jumat (29/7), di Kudus, mengatakan, penyakit garis klorosis itu muncul karena anomali cuaca. Penyakit itu menyebabkan tanaman tebu varietas bululawang stres sehingga memengaruhi perkembangan dan rendemen tebu.
Pada musim panen dan giling tahun ini, produksi tebu rata-rata turun dari 650 kuintal per hektar menjadi 455 kuintal per hektar. Rendemen juga hanya mencapai 6,07 persen dari target maksimal rendemen 7,09 persen dan minimal 6,1 persen.
”Dari 1.803 hektar tebu, 50 persennya harus diganti tanaman baru, sedangkan sisanya harus dipanen muda. Seharusnya umur panen tebu adalah 12 bulan atau 14 bulan, sekarang tujuh bulan saja harus dipanen,” papar Agus.
Sementara itu Maslam (58), petani tebu di Desa Besito, Kecamatan Gebog, mengemukakan, situasi petani tebu dalam dua tahun terakhir serba sulit. Harga gula tidak sesuai harapan, rendemen rendah, biaya sewa tanah serta angkut naik, dan muncul serangan CSD.
PG Rendeng juga membantah dugaan polisi bahwa mereka menggunakan marine fuel oil (MFO) atau minyak bakar ilegal. Dugaan itu muncul setelah polisi menangkap truk pengangkut 16.000 liter MFO yang diduga ilegal pada Rabu malam. Polisi bahkan sempat memasang garis polisi di tangki penampung MFO milik PG Rendeng.
Kepala Gudang sekaligus Humas Tri G menegaskan, minyak bakar pemicu api ketel itu resmi diperoleh dari Pertamina.