Buruh migran

Sri Nawati "Hilang" di Kuwait sejak 2004

Kompas.com - 31/07/2011, 13:52 WIB

KUDUS, KOMPAS.com — Seorang tenaga kerja Indonesia asal Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Sri Nawati (22), yang sejak 2004 bekerja di Kuwait, hingga sekarang belum diketahui kabarnya.

"Keluarga sudah berupaya mencari tahu keberadaannya dengan meminta bantuan seseorang yang sebelumnya menjadi sponsor keberangkatan Sri Nawati," kata orangtua Sri Nawati, Sulikah, di Kudus, Minggu (31/7/2011).

Sebelumnya, keluarga memiliki surat keterangan tempat kerja dan nomor telepon majikan Sri Nawati di Kuwait. Surat keterangan itu, kata Sulikah, diserahkan kepada Rosman, warga Desa Larikrejo, yang sebelumnya menjadi sponsor keberangkatan Sri. Keluarga berharap Rosman membantu melacak keberadaan Sri.

"Bahkan, keluarga juga menyerahkan sejumlah uang kepada Rosman. Kenyataannya, hingga sekarang tidak ada hasilnya," ujarnya.

Data penting untuk mencari informasi Sri di Kuwait justru dihilangkan oleh Rosman.
Selain tidak pernah memberi kabar, anak pasangan Sulikah dan Sulikan tersebut juga belum pernah mengirimkan uang kepada keluarganya di Tanah Air.

"Keluarga hanya ingin mengetahui kabarnya, apakah kondisinya sehat atau tidak karena sejak tahun 2004 tidak memberikan kabar sama sekali," ujarnya.

Ia berharap pemerintah bisa membantu mencarikan informasi tentang keberadaannya.
"Jika memang bisa dipulangkan, maka keluarga berharap ia bisa dipulangkan secepatnya," ujarnya.

Sementara itu, anggota DPRD Kudus Superiyanto mengaku dua kali berupaya mencari keberadaan dan kabar Sri Nawati ke Jakarta, tetapi belum membuahkan hasil.

"Informasinya, kontrak kerja di Kuwait berlangsung selama tiga tahun. Artinya, tahun 2007 kontrak kerjanya sudah habis. Kenyataannya, hingga sekarang tidak diketahui kabarnya," ujarnya.

Staf Direktorat Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kementerian Luar Negeri Susapto Anggoro B menyatakan siap menindaklanjuti laporan keluarga Sri Nawati. "Namun, kami butuh data lengkap tentang Sri Nawati," ujarnya.

Nasib serupa juga dialami Masinah (30). Warga Desa Karangrowo yang menjadi TKI di Arab Saudi sejak tahun 1999 itu belum diketahui kabarnya.

Keluarga juga berupaya menanyakan kabar Masinah, termasuk menghubungi PT Afida Afiaduta Jakarta yang berperan sebagai penyalur Masinah ke Arab Saudi.

"Informasinya, perusahaan yang menjadi penyalurnya pernah menanyakannya langsung kepada majikan sebelumnya. Namun, jawabannya tidak memuaskan," ujar Sukino, paman Masinah.

Majikannya menjawab tidak ada pembantu yang bernama Masinah di rumahnya. "Pihak penyalur juga menyarankan keluarga menanyakannya langsung ke Kedutaan Besar Indonesia untuk Arab Saudi," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau