Ramadhan

Stok Sembako Kurang, Harga Makin Meroket

Kompas.com - 31/07/2011, 14:16 WIB

POLEWALI MANDAR, KOMPAS.com - Berkurangnya stok sembako menjelang ramadhan, sejumlah kebutuhan pokok seperti telur dan beras di pasar tradisional polewali mandar, sulawesi barat/ menyebabkan sejumlah harga kebutuhan pokok melonjak cukup tinggi, sejak tiga hari menjelang ramadhan.

Namun sejumlah kebutuhan pokok lainnya seperti bawang dan cabe merah besar malah turun dari harga pekan lalu. Minggu (31/7/2011), sehari menjelang Ramadhan, harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional Polewali mandar, sejumlah kebutuhan pokok melonjak cukup tinggi, hingga membebani konsumen.

Harga telur yang sebelumnya dijual Rp 24 ribu per rak isi 30 butir, kini dijual Rp 32 ribu per rak atau Rp 1.500 perbutir dari sebelumnya hanya Rp 1000 perbutir.

Kurangnya pasokan telur diduga dampak dari kebijakan pemerintah polewali mandar yang melarang seluruh produk unggas, termasuk telur asal Sidrap dan Pare-pare yang sudah ditetapkan KLB flu burung.

Kedua daerah kabupaten di Sulsel ini menjadi salah satu daerah pemasok utama kebutuhan telur di Polewali mandar. Pemerintah beralasan melarang telur asal Sidarp dan Pare-pare masuk ke Polewali untuk melindungi masyarakat konsumen di polewali agar terbebas flu burung.

Harga beras Ciliwung dan IR 32 juga naik dari Rp 6.000 perkilogram menjadi Rp 6.300 perkilogram. Sedang beras kepala cap mutiara biru dan teratai naik dari Rp 6.500 menjadi Rp 6.900 perkilogram.

Kegagalan produksi gabah di sejumlah sentra penghasil beras yang memasok ke polewali diduga memicu naiknya harga beras menjelang ramadhan.

Meski sejumlah kebutuhan pokok naik tajam, namun harga kebutuhan pokok lainnya seperti bawang merah dan tomat malah turun dari harga sebelumnya. Harga bawang merah yang dijual Rp 25 ribu perkilogram tiga hari lalu, malah turun menjadi Rp 21 ribu per kilogram.

Tomat yang sebelumnya dijual Rp 6.000 turun menjadi Rp 5.000 perkilogram. Pedagang sayur mayur di pasar pekkabata polewali, Zaenal mengaku tidak tahu menahu alasan sejumlah kebutuhan pokok seperti bawang merah dan tomat turun.

"Bawang malah turun dari Rp 24 ribu menjadi rp 21 ribu, sedang tomat dan sayur mayur relatif tetap," ujar Zaenal yang mengaku tidak tahu mengapa harga bawang turun sementara harga barang lainnya naik, pada Minggu.

Kepala bidang pemantau pasar, Abbas mengaku adanya sejumlah kebutuhan pokok yang melonjak cukup tinggi menjelang Ramadhan, namun ada juga sejumlah kebutuhan pokok yang malah turun dari harga sebelumnya.

"Dari hasil pantau petugas kita temukan memang ada kebutuhan pokok naik tapi juga malah ada yang turun. Menjelang ramdhan hal seperti ini sudah biasa terjadi karena permintaan barang yang tinggi," ujar Abbas.

Sehari menelang dan selama ramadhan petugas dinas perindag yang telah membentuk tim investigasi mulai hari ini akan terus memperketata pemantauan harga-harga sembako termasuk distribusi sembako untuk menekan praktek penimbunan barang oleh sejumlah oknum pengusaha untuk mengeruk untuk ditengah situasi warga yang sedang kesulitan akibay naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

Dinas Perindag mengancam siapa saja pengusaha yang melakukan praktek ilegal untuk menarik untung secara ilegal seperti menimbun barang untuk menaikkan harga di pasaran akan dikenai sangksi pencabutan izin usaha.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau