Memang, akan terlihat perbedaan sangat mencolok antara kereta komuter di Seoul dan Jakarta. Sejak mulai beroperasi pada 15 Agustus 1974, jaringan kereta komuter Seoul berkembang dari satu jalur dengan panjang rel 7,8 kilometer menjadi sembilan jalur dengan total panjang rel 314 kilometer.
Jalur satu hingga empat dilayani bersama Seoul Metro dan Korail. Jalur lima hingga delapan dilayani Seoul Metro Rapid Transit Corporation. Sementara jalur sembilan dilayani Seoul Metro Line 9 Corporation.
Di Seoul, kereta rel listrik (KRL) atau disebut Metro Subway oleh penduduk setempat adalah transportasi utama mayoritas warga di sana. Setiap hari, rata-rata 6,9 juta warga menumpang KRL.
Kereta datang setiap tiga menit pada jam padat, yang berlangsung 15 jam sehari, di jalur satu hingga delapan. Pada jalur sembilan, kereta rata-rata datang setiap 20 menit. Dengan 480 kereta api yang rata-rata membawa delapan gerbong, nyaris warga tidak khawatir tidak mendapat kereta.
Semua kereta tetap sejuk walau pada jam padat sekalipun. Rancangan jalur bawah tanah yang hanya pas untuk badan kereta memastikan tidak ada penumpang di luar gerbong. Tidak ada pula penumpang naik tanpa membayar.
Warga memandang KRL sebagai transportasi paling rasional di Seoul. Kemacetan membuat moda transportasi berbasis jalan raya tidak bisa ditebak kepastian waktunya. Hal itu tidak terjadi pada KRL.
”Saya tidak mungkin menggunakan mobil pribadi di Seoul. Saya bisa stres dengan kemacetan dan biayanya yang mahal,” ujar Juni-cho, salah seorang pengguna KRL jalur tiga di Seoul, Rabu (6/7).
Biaya transportasi dengan KRL memang jauh lebih murah dibandingkan dengan biaya naik bus atau mobil pribadi. Setiap penumpang membayar 900 won atau sekitar Rp 7.200 sekali jalan jika menggunakan tiket langganan, atau 1.000 won sekali jalan jika memakai tiket sekali pakai. Jika pindah kereta, penumpang dikenai 100 won per 5 kilometer. Harga tiket KRL Seoul hampir sama dengan harga baru KRL Jakarta.
Sementara dengan bus, tarif perjalanan rata-rata 2.500 won per sekali jalan. Namun, kemacetan membuat waktu tempuh menjadi tidak pasti. Bus harus berbagi jalan dengan aneka jenis mobil pribadi di jalan-jalan Seoul. Meskipun demikian, bus menjadi alternatif untuk beberapa lokasi yang jauh dari kota.
Dengan kendaraan pribadi, warga harus membayar biaya parkir minimal 3.000 won per jam. Belum lagi harus menyediakan biaya perawatan kendaraan. Harga bensin di Seoul rata 2 dollar AS per liter. Karena itu, Seoul termasuk 10 besar kota dengan harga bensin termahal di dunia. Hambatan lain dengan kendaraan pribadi adalah kemacetan yang membuat tidak ada kepastian.
Dengan hampir 400 titik pemberhentian di seluruh Seoul, warga mudah mencapai stasiun KRL. Rata-rata setiap stasiun KRL bisa dicapai dengan berjalan kaki selama 15 menit dari lokasi sekitarnya. Perjalanan antarstasiun rata-rata 4 menit dan nyaris tidak pernah terlambat satu menit pun.
Semua stasiun relatif bersih. Nyaris tidak ada sampah berserakan di lantai stasiun. Walau berada di bawah tanah, stasiun tidak pengap. Sirkulasi udara yang baik ditunjang perilaku warga yang sama sekali tidak merokok selama di ruang publik, seperti stasiun KRL dan taman.
”Kami sadar ini fasilitas bersama. Kami tidak ingin kualitasnya menurun karena perilaku yang buruk,” tutur Lee Jeung-byok, salah seorang pengguna KRL jalur dua di Seoul.
Soal keamanan dan kenyamanan tidak perlu ditanya. KRL yang beroperasi mulai pukul 05.45 hingga 23.40 untuk sebagian besar jalur itu hampir tidak pernah menjadi lokasi kejahatan. Pada kereta terakhir kerap terlihat remaja putri sendirian di gerbong sepi dan asyik dengan telepon genggamnya.
Di Jakarta, KRL menjadi pilihan bagi bagi warga sekitar Jakarta untuk masuk ke kota. Keterlambatan minimal 5 menit menjadi pemandangan sehari-hari. Sebagian pengguna mengumpat dengan keterlambatan itu. Sementara sebagian lain perlahan menerimanya sebagai kelaziman.
KRL Jakarta beroperasi mulai tahun 2000 setelah menerima 72 KRL dari Jepang. Sekarang, KRL Jakarta melayani lima rute utama dari luar Jakarta dan satu rute dalam kota. Mulai Juli 2011, KRL berhenti di semua stasiun. Tidak ada lagi KRL ekspres karena selain lebih lambat dari sebelumnya, semua KRL sama sekali tidak terasa sejuk. Penyejuk udara di gerbong tidak terasa karena penumpang terlalu padat. Jangankan untuk berjalan, bergerak saja susah.
Keterbatasan kereta membuat sebagian penumpang bergelantungan di pintu gerbong. Sebagian lagi nekat duduk di atas gerbong. Berbagai cara operator mencegah mereka melakukan itu tidak pernah berhasil. ”Kalau ada transportasi murah dan lebih baik, mana mau saya naik ke atas gerbong begini,” ujar salah seorang penumpang KRL di Stasiun Gambir, Sabtu (2/7).
Warga dari Bogor, Bekasi, dan Tangerang merasa hanya dengan kereta kepastian perjalanan relatif bisa didapat. Berkendara di jalan pada jam sibuk di Jakarta adalah latihan kesabaran tingkat tinggi. Bisa menempuh perjalanan Cawang-Semanggi dalam 30 menit pada jam sibuk adalah hal yang nyaris mustahil.
Bus juga tidak bisa menjadi pilihan karena faktor kemacetan itu. Perilaku awak bus yang kerap menjadikan jalan raya sebagai sirkuit balap juga mendorong sebagian orang tidak menggunakan bus.
Namun, sekali lagi, warga Jakarta tidak punya banyak pilihan moda transportasi massal. Rencana pembangunan moda transportasi massal tidak pernah terealisasi dengan baik. Tiang untuk monorel sudah telanjur berdiri dan tidak jarang menjadi sumber kemacetan di berbagai jalan di Jakarta. Namun, tidak pernah ada kepastian kapan rencana itu benar-benar terealisasi.
Jalur busway masih dirundung kekurangan armada. Akibatnya, waktu tempuh menjadi tidak pasti. Sementara KRL, pada hari-hari terakhir ini, menjadi semakin tidak nyaman. KRL lebih panas dan lebih lambat.