Ankara, Senin
Ketegangan sudah terjadi lama antara militer yang sekularis dan pemerintah yang berakar Islami. Ketegangan kembali meletup, Jumat (29/7), ketika Kepala Staf Gabungan Jenderal Isik Osaner mundur bersama dengan kepala staf AD, AL, dan AU.
Pengunduran diri itu memungkinkan Erdogan mengonsolidasikan kontrol atas militer yang pernah sangat berkuasa. Kubu militer melakukan serangkaian kudeta sejak 1960. Namun, kekuasaan militer telah dibatasi sebagai dampak euforia reformasi yang didukung Uni Eropa. Reformasi mengemuka militer sejak menggulingkan sebuah pemerintah yang dipimpin kaum Islami dari kekuasaan tahun 1997.
Para petinggi militer itu mempermasalahkan apa yang disebut rencana ”Godam” berdasarkan kejadian-kejadian pada sebuah seminar militer tahun 2003. Para perwira mengatakan, bukti kesalahan mereka direkayasa.
Erdogan, Senin, memulai pertemuan Dewan Militer Agung (YAS) yang akan berlangsung selama empat hari. Kemudian dia akan bergabung dengan para jenderal untuk memberi penghormatan kepada negarawan pendiri Turki, Mustafa Kemal Ataturk, di mausoleum yang terletak di puncak bukit dekat Istanbul.
Erdogan berjalan memasuki mausoleum di depan para jenderal dan meletakkan karangan bunga di depan makam Ataturk. Namun, hanya sembilan dari 14 jenderal yang biasanya menghadiri pertemuan pertemuan YAS itu. Selain keempat orang yang mengundurkan diri hari Jumat, seorang komandan lain tidak hadir karena dia sedang berasa di penjara.
Erdogan duduk sendirian di kepala meja. Biasanya dia duduk di samping kepala staf gabungan. Menteri Pertahanan Ismet Yilmaz juga hadir dalam pertemuan itu. Posisi Erdogan yang duduk sendiri itu dianggap sebagai lambang otoritas sipil terhadap para jenderal.
Simbolisme susunan tempat duduk ini juga menyampaikan pesan bahwa militer Turki, yang pernah melakukan kudeta-kudeta dan memimpin penyusunan konstitusi pada awal 1980-an, kembali kalah dalam perebutan kekuasaan dengan sebuah pemerintah dukungan rakyat.
Erdogan telah bergerak cepat untuk menunjuk Kepala Polisi Jenderal Necdet Ozel sebagai pejabat kepala staf gabungan setelah Kosaner mundur. Namun, dia diperkirakan dia tidak akan dilantik sebagai kepala staf gabungan sampai ada pengumuman pejabat baru yang ditunjuk hari Kamis.
Akar Erdogan dalam Islam politis telah membuat khawatir kaum sekularis garis keras di militer dan institusi-institusi lain. Sebagian rakyat Turki khawatir Erdogan akan mundur dari janji reformasi walau partai berkuasanya mendapat kemenangan pemilu.
Oposisi Partai Rakyat Republik, yang dihubungkan dengan kaum sekuler Turki yang lama, telah mengatakan militer seharusnya tetap di barak, tetapi menuduh pemerintah ingin ”memfitnah dan mendiskreditkan” angkatan bersenjata.
Timothy Ash, seorang analis Royal Bank of Scotland yang mengunjungi Turki pekan lalu, mengatakan, ”Konsensus selama akhir pekan adalah pengunduran diri itu menandai berakhirnya posisi dominan militer dalam masyarakat Turki dan memperlihatkan kontrol sipil atas militer.”