Turki

Perdana Menteri Erdogan Bahas Figur Pemimpin Baru Militer

Kompas.com - 02/08/2011, 05:37 WIB

Ankara, Senin - Perdana Menteri Turki Tayyip Erdogan bertemu dengan para petinggi militer hari Senin (1/8). Pertemuan bertujuan untuk memilih seorang petinggi militer yang baru. Ini menyusul tindakan para jenderal paling senior negara itu, yang mengundurkan diri sebagai protes atas penangkapan perwira-perwira, yang diduga terkait dengan rencana kudeta.

Ketegangan sudah terjadi lama antara militer yang sekularis dan pemerintah yang berakar Islami. Ketegangan kembali meletup, Jumat (29/7), ketika Kepala Staf Gabungan Jenderal Isik Osaner mundur bersama dengan kepala staf AD, AL, dan AU.

Pengunduran diri itu memungkinkan Erdogan mengonsolidasikan kontrol atas militer yang pernah sangat berkuasa. Kubu militer melakukan serangkaian kudeta sejak 1960. Namun, kekuasaan militer telah dibatasi sebagai dampak euforia reformasi yang didukung Uni Eropa. Reformasi mengemuka militer sejak menggulingkan sebuah pemerintah yang dipimpin kaum Islami dari kekuasaan tahun 1997.

Para petinggi militer itu mempermasalahkan apa yang disebut rencana ”Godam” berdasarkan kejadian-kejadian pada sebuah seminar militer tahun 2003. Para perwira mengatakan, bukti kesalahan mereka direkayasa.

Erdogan, Senin, memulai pertemuan Dewan Militer Agung (YAS) yang akan berlangsung selama empat hari. Kemudian dia akan bergabung dengan para jenderal untuk memberi penghormatan kepada negarawan pendiri Turki, Mustafa Kemal Ataturk, di mausoleum yang terletak di puncak bukit dekat Istanbul.

Erdogan berjalan memasuki mausoleum di depan para jenderal dan meletakkan karangan bunga di depan makam Ataturk. Namun, hanya sembilan dari 14 jenderal yang biasanya menghadiri pertemuan pertemuan YAS itu. Selain keempat orang yang mengundurkan diri hari Jumat, seorang komandan lain tidak hadir karena dia sedang berasa di penjara.

Berakhirnya era militer

Erdogan duduk sendirian di kepala meja. Biasanya dia duduk di samping kepala staf gabungan. Menteri Pertahanan Ismet Yilmaz juga hadir dalam pertemuan itu. Posisi Erdogan yang duduk sendiri itu dianggap sebagai lambang otoritas sipil terhadap para jenderal.

Simbolisme susunan tempat duduk ini juga menyampaikan pesan bahwa militer Turki, yang pernah melakukan kudeta-kudeta dan memimpin penyusunan konstitusi pada awal 1980-an, kembali kalah dalam perebutan kekuasaan dengan sebuah pemerintah dukungan rakyat.

Erdogan telah bergerak cepat untuk menunjuk Kepala Polisi Jenderal Necdet Ozel sebagai pejabat kepala staf gabungan setelah Kosaner mundur. Namun, dia diperkirakan dia tidak akan dilantik sebagai kepala staf gabungan sampai ada pengumuman pejabat baru yang ditunjuk hari Kamis.

Akar Erdogan dalam Islam politis telah membuat khawatir kaum sekularis garis keras di militer dan institusi-institusi lain. Sebagian rakyat Turki khawatir Erdogan akan mundur dari janji reformasi walau partai berkuasanya mendapat kemenangan pemilu.

Oposisi Partai Rakyat Republik, yang dihubungkan dengan kaum sekuler Turki yang lama, telah mengatakan militer seharusnya tetap di barak, tetapi menuduh pemerintah ingin ”memfitnah dan mendiskreditkan” angkatan bersenjata.

Timothy Ash, seorang analis Royal Bank of Scotland yang mengunjungi Turki pekan lalu, mengatakan, ”Konsensus selama akhir pekan adalah pengunduran diri itu menandai berakhirnya posisi dominan militer dalam masyarakat Turki dan memperlihatkan kontrol sipil atas militer.” (Reuters/AP/DI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau