Kemandirian daerah

Kalteng Rentan Inflasi

Kompas.com - 02/08/2011, 15:20 WIB

PALANGKARAYA, KOMPAS.com- Sebagian besar kebutuhan pokok di Kalimantan Tengah masih dipasok dari luar provinsi tersebut. Karena itu, Kalteng amat rentan terkena inflasi dengan angka relatif tinggi.

Berbagai kebutuhan itu seperti beras, daging ayam, cabai, dan telur. Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Palangkaraya, Danes Jaya Negara di Palangkaraya, Kalteng, Selasa (1/8/2011), mengatakan, inflasi tinggi di Kalteng mudah terjadi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalteng, inflasi pada Mei 2011 misalnya sebesar 0,29 persen. Pada Juni 2011, inflasi Kalteng sebesar 0,95 persen dan pada Juli lalu sebesar 0,56 persen.

Danes menambahkan, produksi padi Kalteng memang surplus tapi harus diolah dulu dan itu dilakukan di luar provinsi tersebut. Banyak padi diolah dulu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. "Lalu, beras dikirim lagi ke Kalteng sehingga tetap saja mendorong harga beras tinggi. Tentu saja inflasi mudah dipicu," ujarnya.

Sebagai upaya mencegah inflasi tak terkendali, tutur Danes, Bulog Divisi Regional Kalteng harus sering mengadakan pengecekan harga di lapangan. "Lalu, jika harga mulai naik tak terkendali, lakukan operasi pasar. Itu juga tantangan untuk meningkatkan produksi kebutuhan pokok secara lebih mandiri," katanya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau