DK PBB Akhirnya Sepakat Mengutuk Suriah

Kompas.com - 04/08/2011, 00:07 WIB

NEW YORK, KOMPAS.com - Para duta besar negara-negara anggota Dewan Keamanan PBB, Rabu (3/8/2011), akhirnya menyepakati sebuah pernyataan untuk mengutuk kekerasan yang dilakukan pemerintah Suriah terhadap para demonstran anti-pemerintah. Namun, pernyataan tersebut juga menyerukan kepada pihak pemrotes untuk menghentikan semua bentuk kekerasan dan penyerangan terhadap institusi negara.

Menurut para diplomat yang terlibat dalam pembahasan tentang Suriah di DK PBB, draf pernyataan tersebut secara prinsip telah disetujui oleh semua anggota dan tinggal menunggu persetujuan akhir sebelum akan dibacakan sebagai pernyataan resmi DK PBB pada hari yang sama.

Dalam draf pernyataan yang diperoleh kantor berita AFP dan Reuters, disebutkan, DK PBB "mengutuk meluasnya pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan penggunaan kekuatan (militer) terhadap rakyat sipil oleh pihak-pihak berwajib Suriah."

Pernyataan itu juga mendesak Suriah untuk menghormati hak asasi manusia dan mematuhi kewajiban mereka di bawah hukum internasional. DK PBB juga menyesalkan langkah pemerintah Presiden Bashar al-Assad yang dipandang kurang berkomitmen untuk melaksanakan janji reformasi yang pernah disampaikan kepada rakyat Suriah.

Namun, draf dokumen itu juga menyerukan "penghentian segala bentuk kekerasan dan mendesak semua pihak untuk saling menahan diri, mencegah tindak balas dendam, termasuk penyerangan terhadap institusi-institusi negara".

Kalimat terakhir ini merupakan bentuk kompromi dengan keinginan Rusia, China, dan beberapa anggota DK PBB lainnya, yang menuntut keseimbangan dalam pernyataan tersebut dan menyalahkan pihak pemerintah maupun demonstran atas pecahnya kekerasan dalam gelombang protes anti-pemerintah yang telah berlangsung lima bulan.

Negara-negara Barat, termasuk AS, Inggris, Perancis dan Jerman, sudah berbulan-bulan mengusulkan resolusi DK PBB untuk menghentikan tindak kekerasan Presiden al-Assad, tetapi ditentang oleh negara-negara BRICS (Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan), yang kebetulan semua menjadi anggota DK PBB tahun ini.

Negara-negara tersebut kecewa dan marah terhadap negara-negara Barat, yang mereka anggap telah menyalahgunakan resolusi DK PBB tentang Libya untuk melancarkan operasi militer yang berlarut-larut hingga saat ini. Rusia dan China, yang menjadi anggota tetap DK PBB, bahkan terang-terangan mengancam akan memveto setiap rencana resolusi menentang Suriah.

Namun, sikap Rusia dan negara-negara tersebut berubah pekan ini setelah angkatan bersenjata Suriah menyerbu kota Hama dan menewaskan tak kurang dari 80 warga sipil dalam usaha memadamkan demonstrasi anti-pemerintah. Mereka akhirnya sepakat mengeluarkan pernyataan, yang tingkatnya masih di bawah resolusi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau