Mubarak Ditawari ke Israel

Kompas.com - 04/08/2011, 07:36 WIB

JERUSALEM, KOMPAS.com - Jika saja mantan Presiden Hosni Mubarak menerima tawaran hijrah ke Israel pasca- ”lengser”, boleh jadi dia sekarang tengah melanjutkan dan menikmati sisa hidup dalam ketenangan dan jauh dari ancaman hukuman mati.

Tawaran untuk hijrah ke Israel setidaknya diakui datang dari salah seorang anggota legislatif Israel, Binyamin Ben-Eliezer, Rabu (3/8), saat berbicara di stasiun radio milik Angkatan Darat Israel.

Ben-Eliezer berbicara tak lama setelah media massa menayangkan gambar Mubarak dibawa masuk ke ruang sidang dalam posisi berbaring di atas tempat tidur rumah sakit. Dia mengaku menawari Mubarak beberapa bulan lalu.

”Saat bertemu dengannya di Sharm el-Sheikh, saya katakan kepada dia, jarak menuju Israel tak terlalu jauh. Saya juga bilang, saat itu justru saat yang tepat baginya untuk pindah dan menyembuhkan diri (di Israel). Saya sangat yakin Pemerintah Israel akan menerimanya. Namun, dia menolak karena dia seorang patriot,” ujar Ben-Eliezer.

Tak lama setelah dijatuhkan dari kursi kepemimpinannya lewat gerakan massa, Mubarak mengungsi ke kota resor wisata terkenal Mesir, kota Sharm el-Sheikh. Ben-Eliezer, yang juga teman lama Mubarak, menawarinya mengungsi ke kota pelabuhan terkenal Israel di Laut Merah, Eilat.

Lebih lanjut Ben-Eliezer menyebutkan, tawaran serupa juga datang dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Namun, kantor Perdana Menteri Netanyahu belum mengonfirmasi berita itu.

Pascaperdamaian antara Israel dan Mesir yang dicapai pada tahun 1979, kedua negara sempat saling bersikap dingin satu sama lain. Namun, kemudian Israel menganggap Mubarak sangat berjasa, terutama dalam mengendalikan kekuatan Iran dan sejumlah kelompok radikal Islam lain yang memusuhi Israel.

Kejatuhan Mubarak dari ”takhta” yang telah didudukinya selama tiga dekade tak urung membuat Israel sangat khawatir. Mereka kehilangan tokoh sekutu terbaik. Perjanjian damai pun terancam jika Mesir dikuasai kelompok Islam garis keras.

Pendapat beragam

Beragam pendapat bermunculan dari rakyat Mesir menanggapi pengadilan terhadap Mubarak yang digelar perdana Rabu ini.

”Saya benar-benar tidak memercayai ini.... Melihat seorang presiden diadili.... Saya tidak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Saya sangat senang. Siapa pun presiden Mesir nantinya akan mengingat kalau mereka juga bisa diadili seperti ini jika dia menentang rakyat,” ujar Ahmed Amer (30), seorang pegawai swasta.

Amer dan banyak lagi rakyat Mesir menghabiskan waktu mereka hari ini untuk mengikuti jalannya persidangan perdana Mubarak, baik langsung di luar kompleks pengadilan maupun di toko atau kafe-kafe dengan televisi menayangkan langsung pemberitaan tentang itu.

”Saya dahulu menentang gerakan reformasi para pemuda di Lapangan Tahrir. Namun, sekarang, melihat hasil perlawanan mereka berhasil membawa sang firaun untuk diadili, saya benar-benar salut terhadap revolusi dan pemuda Mesir,” ujar Ali Abdullah, pemilik toko di kota resor wisata Sharm el-Sheikh.

Walau begitu, sekelompok massa pro-Mubarak juga menunjukkan dukungan dan simpati. Mereka berunjuk rasa dan meneriakkan yel-yel di depan gedung pengadilan tempat Mubarak diadili. Aparat kepolisian mencoba menenangkan mereka.

”Saya sangat sedih melihat presiden saya terbaring lemah di atas tempat tidur seperti itu sambil diadili. Walau bagaimanapun, dia hanya seorang tua yang seharusnya dikasihani. Namun, saya tak peduli dengan anak-anaknya,” ujar Khaled Hassan (41).

Sementara Sara Abbar, seorang pendukung lainnya, menilai Mubarak juga banyak berjasa bagi pembangunan Mesir. (REUTERS/AP/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau