KOMPAS.com - Perempuan punya peran dan tugas besar di rumah tangga. Perempuan, terutama sebagai ibu dalam rumah tangga dikenal multitasking, sanggup menjalani dan menyeimbangkan semua peran yang dijalankannya. Seorang ibu memastikan semua anggota keluarganya terpenuhi kebutuhannya, dan tumbuh serta berkembang lebih baik. Peran dan karakter ibu ini juga diaplikasikan Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany dalam memimpin Pemerintah Kota Tangerang Selatan.
Berpikir dan bertindak sebagai ibu
"Menjadi pemimpin perempuan bukan berarti tanpa kendala. Namun saya menjalankannya seperti ibu di rumah, hanya saja peran saya lebih besar karena memimpin rumah yang lebih luas. Layaknya ibu, jika ada anak yang mengeluh, tugas ibu mendengarkan dan membantunya. Saat ada demonstrasi, para demonstran ini layaknya anak yang sedang mengeluh kepada ibunya, dan harus didengarkan apa maunya," jelas Airin kepada Kompas Female di Hotel Mulia, Jakarta beberapa waktu lalu.
Ibu dari Ghifari Wardana (13) dan Ghefira Wardana (6) ini memimpin kota pemekaran dari kabupaten Tangerang provinsi Banten dengan populasi hampir 1,3 juta jiwa.
Dalam pandangan Airin, sama seperti tugas ibu di rumah, meski sudah berusaha memberikan yang terbaik, ibu tak bisa memuaskan semua orang. Karenanya, dalam menjalani peran sebagai Wali Kota, Airin tak lantas membebani dirinya dengan berbagai kebutuhan dan keinginan warganya. Sebaliknya, perempuan yang pernah berprofesi sebagai notaris ini justru lebih jeli memerhatikan kebutuhan kota dan warga yang dipimpinnya.
Dalam bincang-bincang bersama Harian Kompas dan Kompas.com, Airin mengutarakan berbagai program, baik yang direncanakan mau pun yang sudah diaplikasikan, dalam seratus hari kepemimpinannya.
Layaknya ibu yang terbiasa berpikir kompleks dan selalu memerhatikan detil setiap kebutuhan keluarga, Airin merencanakan detil setiap ide dan rencana yang ingin diwujudkannya memajukan Kota Tangerang Selatan. Mulai masalah sampah dan pengolahannya, gaya hidup hijau dengan jalur sepeda dan car free day, isu infrastruktur, tata ruang kota, kawasan pemukiman, berbagai isu diperhitungkannya dengan detil dan terencana.
"Semua memang masih tahap rencana, semoga saya bisa mewujudkannya segera," harapnya.
Perempuan punya potensi
Airin mengaku tak memiliki latar belakang atau pengalaman di bidang politik. Namun ia memiliki mentor yang menguatkannya untuk berkiprah di panggung politik dan sukses meraih kursi kepemimpinan tertinggi di kota Tangerang Selatan.
"Saya belajar dari kakak ipar saya ibu Atut (Gubernur Banten -RED), beliau adalah mentor saya. Selain juga ibu Megawati dan Sri Mulyani, mereka adalah perempuan sumber inspirasi," katanya.
Menurut Airin, tak ada diskriminasi yang melemahkannya sebagai perempuan dalam berkiprah di ranah publik, bahkan untuk meraih tampuk kepemimpinan. Serupa seperti banyak perempuan yang berkiprah di ruang publik, tantangan terbesar yang dialaminya adalah lebih kepada pembagian waktu antara peran publik dan peran domestik.
"Tantangan terbesar bagi saya adalah membagi waktu dengan keluarga. Karenanya saya selalu membuat skala prioritas dalam segala hal dan disiplin waktu," tutur mantan Puteri Indonesia Jawa Barat 1996 ini.
Ibu yang jeli
Kepemimpinan Airin yang menonjolkan peran ibu bagi warganya, justru membuatnya lebih peka untuk menyentuh kebutuhan banyak orang. Salah satu program yang digulirkannya terinspirasi dari peran ibu adalah "Gerakan Ibu Membaca untuk Anak". Program ini resmi diluncurkannya pada Hari Anak 23 Juli 2011 lalu.
"Gerakan ini mengajak para orangtua, terutama ibu, agar menyempatkan waktu membaca untuk anak jika ingin memiliki anak yang lebih peka terhadap sekitarnya," jelas Airin.
Perempuan yang gemar bersepeda ini merasakan secara pribadi dampak membacakan cerita kepada anak. "Anak pertama saya biasa dibacakan buku cerita. Ia tumbuh lebih peka. Sebagai ibu, saya merasa diperhatikan olehnya. Anak terlatih kepekaannya dengan kebiasaan membaca," lanjutnya.
Pengalaman pribadi sebagai ibu menjadi inspirasi dalam kepemimpinan Airin. Sederhana saja, jika putranya bisa mendapat manfaat dari membaca buku, maka anak-anak lain di Tangerang Selatan pun juga bisa menikmati manfaat membaca dan bercerita dari buku.
Seperti ibu yang ingin anak-anaknya sukses di masa mendatang, Airin menginginkan warganya berkembang dengan kemandirian. Pengetahuan dan pelatihan keterampilan menjadi fokusnya. Seiring dengan gerakan membaca, pemerintahan yang dipimpinnya juga menggalakkan perpustakaan keliling.
"Saat ini ada 35 perpustakaan keliling di tujuh kecamatan. Perpustakaan keliling ini tak hanya menyediakan buku, namun juga audiovisual, selain juga pelatihan untuk para orang tua. Jadi saat anak membaca buku, orang tua juga mendapatkan manfaat dengan mengikuti pelatihan membuat kerajinan tangan," jelas Airin yang mendorong kemandirian ekonomi melalui usaha kecil menengah berbasis industri rumahan yang punya potensi besar di Tangerang Selatan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang