Masalah papua

Hendro: Gelar Referendum Nasional

Kompas.com - 04/08/2011, 16:52 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), mengusulkan agar Pemerintah Indonesia menggelar referendum nasional untuk menentukan apakah Papua tetap bersatu dengan Indonesia atau melepaskan diri. Menurut dia, langkah itu salah satu cara untuk menyelesaikan masalah di Papua.

"Kita minta saja PBB bikin referendum nasional. Seluruh bangsa Indonesia ditanya setuju enggak Irian lepas dari Indonesia? Pasti tidak akan setuju. Jangan hanya referendum lokal," kata Hendro di Jakarta, Rabu (3/8/2011).

Hendro menilai ada campur tangan Pemerintah Belanda dalam Konferensi Internasional Lawyer for West Papua (ILWP) di London, Inggris, yang menuntut kemerdekaan Papua Barat. Hendro mengaitkan gagalnya Belanda memiliki Papua ketika referendum tahun 1969 .

"Yang tetap tidak mengakui Republik Indonesia dari dulu adalah Belanda. Sekarang Belanda melalui LSM dan pengacara membakar-bakar dan menganulir keputusan PBB waktu referendum dulu. Orang-orang jadi terbakar minta referendum," kata Hendro.

Seperti diberitakan, selain pengacara, konferensi itu juga dihadiri pemimpin gerakan kemerdekaan Papua, legislator, dan LSM.

Hendro mengatakan, jika hanya warga Papua yang dimintai pendapat terkait lepas tidaknya dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, kemungkinan rakyat Papua akan meminta memisahkan diri seperti yang terjadi di Timor Timur.

"Kalau kita enggak terikat hukum dan moral, pengennya bercerai saja sama istri. Semua orang mau bercerai kok. Misalnya, di Desa Sintang. Dia pengen masuk ke Malaysia hanya karena dia lihat tidak ada pembangunan di desanya dan desanya sering banyak bantuan dari Malaysia. Itu kan gila," ucapnya.

Ketika jalur politik tengah dilakukan, tambah Hendero, upaya memisahkan diri itu juga dilakukan melalui peperangan oleh kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Contoh terakhir adalah dua kali penyerangan OPM kepada aparat hukum dan sipil yang mengakibatkan empat orang tewas.

"Yang menentukan kemenangan itu aspek politik. Belum pernah militer menang. Jadi militer hanya mengganggu," pungkas Hendro.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau