Mappanyukki

Kuliner dan Ruang Sosial Buka Puasa

Kompas.com - 05/08/2011, 02:55 WIB

Azizah (21), mahasiswa Universitas Airlangga yang tengah berlibur di Makassar, menyempatkan diri singgah di Jalan Mappanyukki. Ia bersama dua temannya berburu makanan khas kampung halaman, seperti pisang ijo, pallu butung, putu cangkiri, putu ambo, cucur bayao, barongko, dan jalangkote. Penganan itu umumnya sangat sulit ditemui Azizah di Surabaya.

Setiap bulan suci Ramadhan, Jalan Mappanyukki, yang membentang 1 kilometer di sebelah utara Stadion Mattoanging, Makassar, Sulawesi selatan, menjelma menjadi pusat kuliner. Lebih dari 100 pedagang menggelar tenda di sisi kiri-kanan jalan itu guna menawarkan penganan buka puasa. ”Mappanyukki lebih menarik dari pusat jajanan lain karena aneka kue dan makanan tradisional Bugis dan Makassar yang dijual sangat beragam,” kata Azizah. Apalagi, alumni SMA Negeri 5 Makassar itu dapat mencicipi acar telur ikan terbang yang menjadi penganan kesukaannya sejak kecil.

Di sini, suasana nostalgia juga dirasakan Muhammad Ridwan (33) yang tengah berlibur dari aktivitas sebagai kontraktor di Ambon, Maluku. Setiap bulan puasa tiba, ia selalu mampir ke Mappanyukki untuk membeli lauk-pauk khas Makassar, mulai dari ikan bakar bumbu parape, pallu mara, pallu kaloa, hingga lawar jantung pisang.

Aneka kue tradisional dan es dijual Rp 1.000-Rp 6.000 per buah, sementara lauk-pauk dan sayuran ditawarkan mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 25.000 per paket.

Dengan harga yang cukup terjangkau, Laila Hamzah (40) tak perlu repot-repot memasak sendiri hidangan berbuka puasa. Karyawan bank swasta itu hampir setiap hari singgah ke Mappanyukki untuk berbelanja kebutuhan buka puasa sang suami dan kedua buah hatinya.

Interaksi sosial ini bermula dari prakarsa Ande Abdul Latif, pengusaha biro perjalanan haji di Jalan Mappanyukki, yang rutin mengadakan pengajian selama Ramadhan pada awal tahun 1990. Menurut Muhammad Husni (55), warga setempat, sang pengusaha ini memberdayakan warga sekitar untuk membuat berbagai macam es dan kue tradisional sebagai hidangan buka puasa.

Aneka penganan itu lantas dijual kepada peserta pengajian. Ande kemudian menyumbangkan tenda ukuran 10 x 2 meter untuk berjualan warga sekitar di depan rumahnya. Kawasan Mappanyukki pun mulai dikenal sebagai pasar Ramadhan seiring bertambahnya jumlah pedagang dari tahun ke tahun.

Kawasan ini membawa berkah bagi para ibu rumah tangga yang ingin mencari tambahan penghasilan menyambut Lebaran.

(ASWIN RIZAL HARAHAP)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau