Azizah (21), mahasiswa Universitas Airlangga yang tengah berlibur di Makassar, menyempatkan diri singgah di Jalan Mappanyukki. Ia bersama dua temannya berburu makanan khas kampung halaman, seperti pisang ijo, pallu butung, putu cangkiri, putu ambo, cucur bayao, barongko, dan jalangkote. Penganan itu umumnya sangat sulit ditemui Azizah di Surabaya.
Setiap bulan suci Ramadhan, Jalan Mappanyukki, yang membentang 1 kilometer di sebelah utara Stadion Mattoanging, Makassar, Sulawesi selatan, menjelma menjadi pusat kuliner. Lebih dari 100 pedagang menggelar tenda di sisi kiri-kanan jalan itu guna menawarkan penganan buka puasa. ”Mappanyukki lebih menarik dari pusat jajanan lain karena aneka kue dan makanan tradisional Bugis dan Makassar yang dijual sangat beragam,” kata Azizah. Apalagi, alumni SMA Negeri 5 Makassar itu dapat mencicipi acar telur ikan terbang yang menjadi penganan kesukaannya sejak kecil.
Di sini, suasana nostalgia juga dirasakan Muhammad Ridwan (33) yang tengah berlibur dari aktivitas sebagai kontraktor di Ambon, Maluku. Setiap bulan puasa tiba, ia selalu mampir ke Mappanyukki untuk membeli lauk-pauk khas Makassar, mulai dari ikan bakar bumbu parape, pallu mara, pallu kaloa, hingga lawar jantung pisang.
Aneka kue tradisional dan es dijual Rp 1.000-Rp 6.000 per buah, sementara lauk-pauk dan sayuran ditawarkan mulai dari Rp 3.000 hingga Rp 25.000 per paket.
Dengan harga yang cukup terjangkau, Laila Hamzah (40) tak perlu repot-repot memasak sendiri hidangan berbuka puasa. Karyawan bank swasta itu hampir setiap hari singgah ke Mappanyukki untuk berbelanja kebutuhan buka puasa sang suami dan kedua buah hatinya.
Interaksi sosial ini bermula dari prakarsa Ande Abdul Latif, pengusaha biro perjalanan haji di Jalan Mappanyukki, yang rutin mengadakan pengajian selama Ramadhan pada awal tahun 1990. Menurut Muhammad Husni (55), warga setempat, sang pengusaha ini memberdayakan warga sekitar untuk membuat berbagai macam es dan kue tradisional sebagai hidangan buka puasa.
Aneka penganan itu lantas dijual kepada peserta pengajian. Ande kemudian menyumbangkan tenda ukuran 10 x 2 meter untuk berjualan warga sekitar di depan rumahnya. Kawasan Mappanyukki pun mulai dikenal sebagai pasar Ramadhan seiring bertambahnya jumlah pedagang dari tahun ke tahun.
Kawasan ini membawa berkah bagi para ibu rumah tangga yang ingin mencari tambahan penghasilan menyambut Lebaran.
(ASWIN RIZAL HARAHAP)