Anwar ibrahim:

Malaysia Being Left behind from Indonesia

Kompas.com - 05/08/2011, 14:31 WIB

MANILA, KOMPAS.com - Malaysian opposition leader Anwar Ibrahim warned Friday his country was being left behind as a wave of democratisation sweeps the world.

Speaking at a forum during a visit to the Philippines, Anwar warned Kuala Lumpur against tampering with elections and said the “Arab Spring” proved that popular clamour for democracy could not be suppressed.

“The entire world, including the most conservative Muslim heartland, the Middle East has now transformed and is clamouring for change and reform. Why must Malaysia be lagging so far behind?” he asked.

“We are lagging far behind the Philippines and Indonesia in terms of building credible (democratic) institutions,” he said at a forum hosted by his friend, former Philippine president Joseph Estrada.

Anwar also fretted that the Malaysian economy was even starting to slip behind Indonesia, Thailand and Vietnam in areas like competitiveness. Anwar said that unlike in Arab countries, he did not expect violence in Malaysia, which has been hit by pro-democracy protests in recent weeks.

But he said Malaysians now wanted more political freedoms and fair elections. “We are not demanding the toppling of the regime. We want to use the ballot box but the ballot box must be clean,” he said.

Anwar said he did not want Malaysia’s leaders to suffer the same fate as former Egyptian leader Hosni Mubarak, who has been put on trial by the new government, but warned that they could not ignore the people’s will. He dismissed the high-profile sodomy case against him as “trumped-up charges” and assailed the government for violently cracking down on street protests.

On July 9 riot police fired tear gas and water cannon at thousands of protesters who were demanding electoral reform in the capital Kuala Lumpur. Police also arrested more than 1,600 people, while one demonstrator died. Anwar himself suffered a bruise on his head and a cut leg.

Anwar, once heir-apparent to ex-prime minister Mahathir Mohamad, was sacked as deputy premier in 1998 and found guilty of corruption and sodomy. He was imprisoned until 2004 when the sodomy conviction was overturned.

He then revived the opposition, forming a coalition that made major inroads during the last general elections in 2008, threatening the Barisan Nasional’s five-decade grip on power.

He remains on trial over allegations that he sodomised a 25-year-old former aide at an upmarket apartment in June 2008. He has said these charges are politically-motivated.

The 63-year-old opposition leader is expected to take the stand for the first time Monday when the defence is called in his trial.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau