Calon presiden

Sri Mulyani Jangan Mau Dipinang Demokrat

Kompas.com - 05/08/2011, 18:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sosok bekas Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati diprediksi akan ditimang-timang sebagai pesaing kuat dalam Pemilu Presiden 2014. Hanya saja, kondisinya tak serupa untuk Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) yang berniat mengusung Sri Mulyani.

Di tahap awal sekali, Partai SRI yang baru berdiri harus menjalani verifikasi untuk bisa menjadi peserta Pemilu 2014.

Karenanya, sulit meyakini bahwa Partai SRI akan langsung melejit memenangi suara dan kursi mayoritas dalam pemilu mendatang. Merujuk syarat pengajuan pasangan calon presiden, besar kemungkinan bahwa dibutuhkan koalisi beberapa parpol untuk benar-benar mengusung Sri Mulyani sebagai calon presiden.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Ikrar Nusa Bhakti di Jakarta, Jumat (5/8/2011), mengungkapkan, figur Sri Mulyani akan menarik parpol yang tidak memiliki figur yang kuat untuk dimajukan sebagai calon presiden.

Misalnya saja, ada kemungkinan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengusung Sri Mulyani digandengkan dengan Mahfud MD yang kini masih Ketua Mahkamah Konstitusi. Demikian juga Partai Persatuan Pembangunan yang belum punya figur amat kuat untuk Pemilu Presiden.

Jika Partai Keadilan Sejahtera bisa menyepakati soal bahwa perempuan boleh menjadi pemimpin, Sri Mulyani pasti masuk bursa kandidat. Bahkan Partai Amanat Nasional (PAN) yang kini masih menjagokan Ketua Umum Hatta Rajasa, bisa saja berbalik haluan ke Sri Mulyani.

Hanya saja, Ikrar berharap agar Sri Mulyani dan pendukungnya bersikap selektif memilih mitra koalisi. Idealnya, koalisi dibangun berdasarkan kesamaan visi dan misi. Hanya saja Ikrar berharap agar Sri Mulyani menolak andai saja ia dipinang Partai Demokrat.

Alasannya? "Bagi saya, Partai Demokrat sudah telanjur buruk," pungkas Ikrar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau