Assad Diminta Akhiri Konflik

Kompas.com - 06/08/2011, 04:25 WIB

washington, jumat - Para pemimpin dunia mengultimatum Presiden Suriah Bashar al-Assad agar mengakhiri pembantaian atas rakyatnya. Jika tidak, dia bakal ”bernasib malang”. Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menegaskan, rezim Assad telah membunuh lebih dari 2.000 warganya sendiri.

”Kami berpikir, saat ini, rezim bertanggung jawab atas kematian lebih dari 2.000 warga dari semua lapis usia di Suriah,” kata Hillary seperti dikutip Associated Press, Jumat (5/8). Dia menambahkan, ”Presiden Assad sudah kehilangan legitimasinya dalam memimpin rakyat Suriah.”

Di antara 2.000 korban tewas terdapat 1.600 warga sipil. Mereka tewas dalam lima bulan krisis, yang dimulai 15 Maret 2011. Kekerasan rezim Suriah memakan korban jiwa sejak 23 Maret. Saat itu, aktivis melaporkan, 100 orang tewas di Daraa, Suriah selatan. Kekerasan aparat atas massa yang menuntut Assad turun terus terjadi hingga kini. Sejak awal pekan ini, lebih dari 140 orang tewas di kota Hama.

Pemerintahan Presiden AS Barack Obama bersiap mengambil langkah lanjutan lebih tegas, yakni mengisolasi Assad dan semua lingkaran elite dalam rezimnya. Komentar Hillary disampaikan pada sebuah konferensi pers terkait lawatan Menlu Kanada John Baird, Kamis.

Hillary menegaskan, AS akan ”terus mendukung rakyat Suriah melakukan upaya mereka sendiri untuk memulai transisi damai dan tertib menuju demokrasi”. AS juga mengajak masyarakat internasional untuk segera mengisolasi Assad dan rezimnya.

Departemen Keuangan mengumumkan, AS telah memberikan sanksi kepada pribadi Muhammad Hamsho dan perusahaannya, Hamsho International Group. Hamsho adalah pengusaha dan orang kepercayaan keluarga Assad. AS membekukan semua aset Hamsho yang mungkin berada dalam yurisdiksi AS dan melarang warga AS menjalin bisnis dengan kelompok Hamsho.

Menteri Keuangan AS David S Cohen mengatakan, Hamsho yang juga anggota parlemen Suriah telah menjadi sangat kaya karena kedekatannya dengan Assad dan saudaranya, Mahir. Menurut Cohen, Hamsho ”mendapatkan kekayaannya berkat koneksi dengan orang dalam rezim” dan terus mendukung Assad.

Hamsho, kata Cohen, juga mengendalikan perusahaan induk yang memiliki 20 anak perusahaan konstruksi, teknik sipil, telekomunikasi, hotel hingga perusahaan penjualan karpet, perdagangan kuda, dan pembuat es krim. Keberhasilan Hamsho itu lebih karena ”koneksi dengan rezim ketimbang karena ketajamannya dalam berbisnis”.

Sanksi kepada Assad akan difokuskan ke perusahaan minyak dan gas milik pemerintah. Perusahaan menjadi sumber keuangan rezim dan masih tetap beroperasi. Semua kelompok bisnis yang menghasilkan uang bagi Assad akan diputus. ”Kami akan meningkatkan tekanan politik dan ekonomi bagi Assad,” kata juru bicara Deplu AS, Mark Toner.

Beberapa pembuat kebijakan AS sudah mendesak Duta Besar AS di Suriah Robert Ford untuk ditarik permanen. Hal itu sebagai bentuk protes dan kecaman AS atas rezim Assad. Dalam pekan ini, Italia juga sudah memulangkan duta besarnya di Damaskus.

Nasib malang

Tekanan serupa datang dari petinggi negara lain. Presiden Rusia Dmitry Medvedev memperingatkan Assad bahwa dia akan menghadapi ”nasib malang” jika gagal untuk memperkenalkan reformasi dan membuka dialog damai dengan oposisi Suriah. Dalam sambutannya yang dirilis kantor berita Rusia, Medvedev mengatakan, ia telah menyampaikan pesan ini kepada Assad.

Medvedev merujuk pada konflik terbaru di Hama yang telah menewaskan lebih dari 140 orang sejak awal pekan ini. ”Sayangnya, sejumlah besar orang tewas di sana. Itu membuat kita sangat prihatin,” katanya.

”Itu sebabnya, baik di tingkat pribadi maupun lewat surat-surat yang saya kirim ke Assad, saya mendesaknya segera melakukan reformasi, bernegosiasi dengan oposisi, memulihkan perdamaian sipil dan menciptakan sebuah negara modern.”

Medvedev melanjutkan, ”Jika Assad gagal melakukannya, dia akan menghadapi nasib yang menyedihkan. Pada akhirnya kita juga harus membuat beberapa keputusan. Kami melihat bagaimana situasi ini berkembang. Semuanya berubah dan pendekatan kami pun berubah juga.”

Ketika sebagian anggota DK PBB menghendaki intervensi militer, Rusia menolak. Medvedev belum merinci apa bentuk pendekatannya yang bisa membuat Assad ”bernasib malang” jika mengabaikan tekanan internasional. AS dan Barat menginginkan tekanan yang lebih kuat, termasuk intervensi militer tentunya.

Sekalipun bulan Ramadhan telah dinodai darah ratusan warga yang dibunuh militer, Assad tidak memperlihatkan sikap melunak. Sedikitnya empat orang tewas akibat kekerasan aparat di Nawa. dekat Deraa, Jumat. Militer juga masih terus mengepung Hama.

Warga Suriah menyebutkan, banyak warga ”dibantai seperti domba” di jalan-jalan. Keluarga larut dalam duka dan menguburkan mereka yang telah tewas itu di kebun di samping rumah atau pinggir jalan. Sebab, jalan menuju pekuburan umum berisiko. Persediaan makanan sangat terbatas, warga berbagi roti, dan komunikasi terputus.

(AP/AFP/REUTERS/CAL)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau