Komoditas lokal

Dana Penyelamatan Sapi Dipertanyakan

Kompas.com - 07/08/2011, 17:35 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Para petani mempertanyakan efektivitas dan akuntabilitas dana APBN di Kementerian Pertanian yang dimanfaatkan untuk program penyelamatan sapi betina produktif. Dalam dua tahun ini, ada dana Rp 1 triliun untuk program tersebut dan tidak tampak efektivitasnya.

Hal itu diungkapkan Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi Kerbau Indonesia Teguh Boediyana, Minggu (7/8/2011) di Jakarta. Teguh mengatakan, dana APBN untuk program penyelamatan sapi betina produktif 2010 sekitar Rp 300 miliar dan tahun ini menjadi Rp 700 miliar. "Tapi tidak jelas untuk apa. Apakah bisa dipertanggungjawabkan, karena efektivitasnya juga tidak kelihatan," katanya.

Teguh melihat program itu sekadar bagi-bagi uang saja. Untuk sapi bunting diberi Rp 500.000 per ekor. Faktanya, justru makin banyak sapi betina produktif yang dipotong.

Tahun ini Kementerian Pertanian akan membagikan dana Rp 700 miliar kepada sekitar 1.000 kelompok peternak sapi. Dana tersebut harus dimanfaatkan untuk pembelian sapi potong betina produktif yang akan dipotong di rumah pemotongan hewan.

Dengan mengalokasikan dana Rp 700 miliar untuk pembelian sapi betina produktif, diharapkan jumlah sapi potong betina produktif yang dipotong berkurang. Dan, diharapkan dapat mendongkrak harga sapi betina produktif di tingkat petani.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Prabowo Respatiyo Caturroso mengungkapkan, saat ini harga sapi potong betina produktif hanya Rp 20.000 per kilogram berat sapi hidup. Lebih rendah di bawah harga sapi potong jantan yang mencapai Rp 23.000.

"Karena lebih murah, sapi potong betina produktif banyak yang dipotong. Kalau dibiarkan terus, lama-lama produksi daging sapi dalam negeri semakin kecil akibatnya ketergantungan impor makin besar," katanya.

Tiap tahun, jumlah sapi potong betina produktif yang dipotong mencapai 200.000 ekor. Saat ini populasi sapi nasional 14,43 juta ekor. Lebih tinggi dari estimasi sebelumnya yang berkisar 12 juta ekor. Dengan populasi sebanyak itu, setiap tahun Indonesia mampu memproduksi daging sapi dalam negeri dengan memotong sekitar 1,2 juta ekor.

Prabowo mengatakan, dana Rp 700 miliar itu akan dibagikan ke kelompok peternak, masing-masing sekitar Rp 700 juta. Dengan begitu ada 1.000 kelompok peternak yang bakal menerima dana tunai pembelian sapi betina produktif.

Selanjutnya, Kementerian Pertanian akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan rumah potong hewan (RPH) untuk membeli sapi-sapi betina produktif yang akan dipotong di rumah potong hewan. "Kami tidak bisa melarang peternak menjual sapi karena terdesak kebutuhan hidup, baik untuk kebutuhan sekolah atau yang lainnya," kata Prabowo.

Selanjutnya, sapi-sapi betina yang dibeli dan diselamatkan dari pejagalan itu dijual pada kelompok peternak yang telah menerima dana dari pemerintah. Dengan dana Rp 700 juta, untuk harga sapi betina produktif per ekor Rp 9 juta - Rp 10 juta, akan ada minimal 70 ekor sapi yang bisa dibeli.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau