Derita sopir truk

20 Jam Terjebak Macet di Pelabuhan Merak

Kompas.com - 07/08/2011, 18:31 WIB

CILEGON, KOMPAS.com — Nasib naas harus ditanggung para sopir truk yang hendak menyeberang dari Pelabuhan Merak, Kota Cilegon, Banten. Pasalnya, mereka belakangan ini kembali harus mengantre sebelum truknya dapat masuk ke dalam Pelabuhan Merak.

Ditemui saat sedang berdiri di samping truknya yang terjebak macet di ruas Cikuasa Atas, Marli, sopir truk pengangkut barang kelontong dari Jakarta tujuan Medan, Sumatera Utara, mengatakan, truknya mengantre di Gerbang Tol Cilegon Timur (posisinya di Km 87 Tol Tangerang-Merak) pada Sabtu kemarin pukul 19.00. Namun, hingga Minggu (7/8/2011) pukul 15.00, truknya masih terjebak antrean dekat pangkal jalan layang Cikuasa Atas.

Sebagai gambaran, ruas Cikuasa Atas adalah poros penghubung Tol Tangerang-Merak dengan Pelabuhan Merak. Artinya, Marli butuh waktu hingga 20 jam hanya untuk menempuh jarak 15 km. Truknya pun masih harus mengantre setibanya di dalam area Pelabuhan Merak sebelum dapat naik ke feri yang sandar di dermaga.

"Harusnya pemerintah segera cari solusi supaya macet di Merak tidak terus berulang seperti ini," kata Marli.

Sementara itu, data dari PT Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Indonesia Ferry (Persero) Cabang Merak menyebutkan, pada Minggu dari pukul 08.16 hingga pukul 14.00, sebanyak 25 unit feri beroperasi di lintas Merak-Bakauheni.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau