Kampung Laut Menyambut Wisatawan

Kompas.com - 08/08/2011, 14:32 WIB

MALAM telah larut saat kapal kami merapat di dermaga Kampung Laut. Sekitar 20 nelayan yang tampaknya telah lama menanti langsung membantu mengangkut barang-barang kami. Satu jam kemudian, kami telah terlelap di rumah-rumah panggung penduduk yang berdiri di atas laut.

Malam itu, kami hanya punya waktu tidur maksimal lima jam. Malah sebagian anggota tim begadang karena asyik mengobrol dengan nelayan setempat. Pagi-pagi buta, kami berkumpul kembali di dermaga.

Lurah Windi Jatmiko membawa kami dengan perahu cepat (speedboat) menyusuri muara Sungai Batanghari menuju sebuah pulau kecil berlumpur. Kata Windi, kami dapat menangkap sumbun sepuasnya di sebuah pulau bernama Siam Tanjung Solok. Pulau ini hanya terlihat saat air laut surut.

Turun dari perahu, kami berjalan melewati lumpur padat yang selalu ingin mengubur kaki dalam-dalam. Yang belum terbiasa akan kesulitan mengangkat kembali kaki yang tertancap ke lumpur. Tidak jarang kami terjatuh. Namun, aktivitas ini sangat mengasyikkan, khususnya bagi tamu-tamu yang lebih banyak menghabiskan waktu di kota. Apalagi, kegiatan ini tak sekadar berjalan dalam lumpur. Yang paling mengasyikkan adalah kami diajak mencari hasil tangkapan berupa mutik sumbun. Kami bagaikan nelayan di kampung laut.

Untuk mendapatkan sumbun, cukup menggunakan pancing sederhana berupa batang lidi. Umpannya juga tak kalah sederhana. Ujung lidi dicucukkan pada adonan kapur sirih dan cabai rawit, lalu umpan ditempel ke lubang-lubang kecil permukaan lumpur yang terlihat berbuih air laut. Mencium aroma kapur sirih dan cabai, sumbun akan mabuk, lalu berjalan ke permukaan. Pada saat itulah, tangan harus sigap mengambilnya sebelum sumbun turun lagi.

Pada sejumlah kesempatan, saya bersama satu kelompok yang terpisah dari rombongan besar mencoba mutik (memancing) sumbun. Tanpa pengalaman tentunya, kami mencucukkan lidi yang telah berumpan ke dalam lumpur. Namun, mengapa sumbun tak kunjung keluar?

Sejumlah teman yang ikut mutik juga tak berhasil. Kami jadi sangat penasaran, terlebih saat itu kami belum mengetahui wujud sumbun yang sebenarnya.

Barulah setelah semua anggota kelompok terkumpul, ada sejumlah peserta yang berhasil mendapat sumbun. Dengan sangat bangga, sumbun diperlihatkan. Para peserta langsung berebut memotret makhluk kecil itu. Dagingnya lembut berwarna putih dan bercangkang tipis agak bening dengan panjang tubuh 8-10 sentimeter. Menurut Windi, sumbun adalah biota laut yang lebih banyak tinggal dalam lumpur-lumpur padat. Harganya di pasaran mencapai Rp 20.000 per kilogram.

Kami pun bertanya, mengapa sumbun yang kami pancing tak mau naik ke permukaan, padahal lidi sudah kami cucukkan ke dalam lumpur. Ternyata teknik tersebut salah. Menurut Demipasang, nelayan setempat, lidi tak perlu sampai masuk ke dalam lumpur. Cukup di permukaan, sumbun sudah pasti akan mencium bau kapur dan cabai, dan tentu akan segera naik ke atas.

Di pulau kecil itu, sebagian nelayan tengah mencari kerang dengan sebilah papan yang disebut betungkah. Papan tersebut berfungsi meluncurkan tubuh mereka di atas lumpur sehingga badan tidak berlepotan, tetapi salah satu kaki tetap mengayuh ke dalam lumpur. Pemandangan langka ini sungguh menarik.

Menurut Demipasang, mutik sumbun dan mencari kerang menggunakan papan betungkah adalah tradisi turun-temurun yang dimulai oleh Suku Duanu atau suku laut sebagai penghuni awal kampung laut setempat. Dari hasil tangkapan itulah, masyarakat menggantungkan penghidupan keluarganya.

Selain menyelami aktivitas nelayan, kami yang tergabung dalam tim Arung Sejarah Daerah Aliran Sungai Batanghari memanfaatkan siang hari menjelajahi perkampungan laut setempat di Tanjung Solok, Kecamatan Kuala Jambi, Tanjung Jabung Timur, Jambi, Selasa (28/6). Rumah, perkantoran, dan pasar berdiri di atas air, terhubung oleh jalan dan jembatan kayu bulian di atas air. Semua bangunan dan jalan ditopang ribuan batang kayu nibung yang menancap ke dasar air.

Suasana serupa kami dapati di perkampungan Suku Duanu yang rapat dan kumuh. Jalan menuju kampung ini penuh lubang sehingga pandangan harus awas ke bawah, atau kaki akan terperosok ke laut.

Nuansa berbeda

Jauh dari keindahan alam pesisir seperti pantai-pantai berpasir putih di Bangka Belitung, perkampungan laut Tanjung Solok menyuguhkan pemandangan berbeda. Berada di sana berarti menyelami realitas kehidupan nelayan pesisir timur Jambi yang penuh dengan perjuangan, tetapi lekat dengan kemiskinan.

Walaupun miskin, hampir semua warga menyambut pendatang dengan keramahan. Suguhan makanan merupakan perpaduan resep Melayu dan Bugis yang sarat dengan bumbu, kecuali kerang dan sumbun yang lebih nikmat direbus setengah matang serta ikan bawal yang dibakar. Warga setempat tanpa sungkan menjual oleh-oleh berupa ikan asin, kerupuk udang, kerang, dan berbagai jenis hasil tangkapan dengan harga miring. Hal itu memancing pendatang membeli dengan jumlah lebih banyak.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jambi, Didy Wurjanto selaku penyelenggara arung sejarah menilai masyarakat kampung laut Tanjung Solok telah siap menyambut kedatangan wisatawan. ”Mereka memiliki banyak hal menarik untuk disuguhkan kepada wisatawan,” ujarnya.

Adapun perjalanan arung sejarah yang melibatkan mahasiswa, lembaga swadaya lingkungan, jurnalis, tim medis, serta anggota Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia berlangsung Senin (27/6/2011)-Kamis (30/6/2011), dimulai dari Jambi, menyusuri Sungai Batanghari dengan kapal bermuatan 60 orang. Tim singgah ke percandian Muaro Jambi, Situs Orang Kayo Hitam, dan Kampung Laut.

Rangkaian perjalanan ini, lanjut Didy, yang akan dikemas menjadi satu paket perjalanan wisatawan. Mungkin paket wisata akan menambahkan kunjungan ke Pulau Berhala sebagai akhir persinggahan. ”Kami akan coba kembangkan paket wisata ini bersama para agen di Asita,” tuturnya.

Masyarakat tentu berharap kunjungan tim arung sejarah itu menjadi awal dimulainya pengembangan wisata kampung mereka. Kunjungan wisatawan tentu akan berdampak pada membaiknya kesejahteraan masyarakat. Sejalan dengan itu, kesadaran nelayan harus tumbuh untuk melestarikan alam pesisir sebagai aset wisata itu sendiri. (Irma Tambunan)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau