JAKARTA, KOMPAS.com - Fluktuasi harga saham dan surat berharga negara (SBN) dalam beberapa hari terakhir ini menunjukkan perilaku investor di pasar modal, yang sedang menguji kekuatan dan sikap pelaku pasar lain. Atas dasar itu, perlemahan indeks harga saham gabungan (IHSG) merupakan hal yang wajar, meskipun diikuti oleh pelepasan kepemilikan oleh investor asing.
"Sangat wajar jika investor menguji pasar. Sebab investor, meskipun menanamkan modalnya sendiri-sendiri, mereka punya komunitasnya. Komunitas ini mengamati kondisi umum, fundamentalnya bagaimana, dan melihat dari respon kebijakan-kebijakan masing-masing negara," ujar Menteri Keuangan Agus Darmawan Wintarto Martowardojo di Jakarta, Senin (8/8/2011).
Menurut Agus, fundamental perekonomian yang baik di Indonesia, serta kebijakan yang konsisten, maka pasar modal dapat didorong untuk kembali tenang.
"Secara fundamental kita yang paling utama. Coba Anda bandingkan debt to GDP (rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto) dan deficit to GDP (rasio defisit APBN terhadap PDB). Negara-negara yang diwaspadai tentu yang debt to GDP-nya besar dan defisit besar," urainya.
Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang (DJPU), kepemilikan asing pada SBN yang mencapai Rp249,87 triliun sempat turun menjadi Rp248,42 triliun. Namun pada perdanganan SBN per 5 Agustus 2011, tercatat kembali terjadi peningkatan kepemilikan SBN menjadi Rp249,62 triliun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang