Pertanian

Serapan Pupuk Kimia Rendah

Kompas.com - 08/08/2011, 20:12 WIB

MADIUN, KOMPAS.com - Serapan pupuk kimia bersubsidi di Jawa Timur selama musim tanam 2011, sangat rendah. Petani mulai mengurangi pemakaian pupuk kimia dan beralih menggunakan pupuk organik produksi sendiri karena harganya lebih terjangkau.

Dinas Pertanian Provinsi Jawa Timur mencatat hingga Juli 2011 realisasi pemakaian pupuk bersubsidi di 38 kabupaten/kota kurang dari 50 persen. Di Kabupaten Madiun yang merupakan sentra pangan misalnya, rata-rata pemakaian pupuk kimia bersubsidi hingga dua musim tanam kurang dari 50 persen.

Kepala Dinas Pertanian Provinsi Jatim Wibowo Eko mengatakan serapan pupuk urea hanya 37,25 persen dari alokasi 1,25 juta ton, pupuk SP-36 hanya 37,47 persen dari alokasi 173.000 ton dan pupuk ZA baru 49,28 persen dari alo kasi selama setahun sebesar 400.000 ton.

"Pupuk organik produksi pabrik hanya terserap 20,41 persen dari alokasi 300.000 ton. Penyerapan ZA yang diprediksi akan lebih tinggi karena sejumlah daerah kembangkan tanaman tembakau," ujarnya.

Wibowo mengatakan rendahnya penyerapan pupuk kimia bersubsidi dan pupuk organik pabrikan ini disebabkan petani mulai beralih menggunakan pupuk organik produksi kelompok tani. Akan tetapi dari total kebutuhan pupuk organik sebanyak 7,73 juta ton per tahun, saat ini baru terpenuhi 4,5 juta ton.

Pemenuhan kebutuhan pupuk organik itu berasal dari kelompok tani yang sudah mendapatkan bantuan alat pembuat pupuk organik berupa granule dan copper. Dengan demikian masih ada kekurang an 2,5 juta ton pupuk organik.

Untuk menutupi kekurangan pupuk organik tersebut, pihaknya telah meminta tambahan 1.102 unit alat pembuat pupuk berupa granul e dan copper kepada pemerintah Provinsi Jatim. Rencananya alat itu akan didistribusikan kepada kelompok tani tahun 2011.

Sementara itu Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Madiun Nadjib mengatakan sudah dua tahun berturut-turut, realisasi pemakaian pupuk kimia bersubsidi di wilayahnya rendah. Akibatnya, alokasi selama setahun tidak pernah habis.

Sebagai gambaran, hingga Juli 2011, jumlah pupuk yang diambil petani kurang dari 50 persen. Padahal, realisasi tanam padi saat ini sudah mencapai 70 persen dari target tanam 2011. Ia mencontohkan, realisasi pemakaian pupuk urea baru 9.900 ton dari alokasi 31.345 ton atau sekitar 31,9 persen. Sedangkan realisasi pemakaian pupuk NPK baru 7.665 ton dari alokasi 21.570 ton.

Menurut petani, pupuk kimia mahal sekalipun sudah mendapatkan subsidi dari pemerintah. Hal itu mengakibatkan biaya produksi petani tinggi. Contohnya, harga SP 36 mencapai Rp 2.000 per kg. Dengan pupuk organik, petani bisa membelinya seharga Rp 500-600 per kg.

"Untuk menghentikan secara total pemakaian pupuk kimia, saat ini kami belum bisa. Akan tetapi para petani sudah mulai mengurangi pemakaiannya secara bertahap dan beralih menggunakan pupuk organi k baik dari kotoran hewan maupun limbah padi," ujar Triono petani dari Desa Kaibon, Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun.

 

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau