Rusdy Bahalwan, Rinus Michel-nya Indonesia

Kompas.com - 08/08/2011, 20:44 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Rusdy Bahalwan sudah meninggalkan dunia sepak bola untuk selama-lamanya untuk memenuhi panggilan Sang Khaliq, Minggu, 7 Agustus 2011 setelah menderita penyakit degenratif sejak tahun 2004. Namun, nama Rusdy Bahalwan akan diukir sebagai legenda sepak bola Indonesia.

Rusdy Bahalwan dikenal sebagai pionir moralitas sepak bola, juga strategi CFB (Coming From Behind). Dalam CFB pola dasarnya adalah 1-4-4-2. Bagaimana bermain memanfaatkan lebarnya lapangan dengan mengefektifkan serangan dari sayap. Bagaimana mengejutkan dan membingungkan lawan dengan gerakan pemain gelandang bahkan bek yang tiba-tiba merangsek masuk ke jantung pertahanan lawan.

Dengan demikian mobilitas pemain harus tinggi mirip pada total football yang diarsiteki Rinus Michel di tim nasional Belanda pada tahun 1970-an. Bola harus mengalir seperti banjir bandang. Maka pemain tidak boleh terlalu lama memegang bola. Juga tidak boleh terlalu banyak menggiring bola sendirian.

Rusdy selalu menekankan bahwa menang dan kalah adalah hasil suatu tim. Maka kolektivitas menjadi paradigma tim besutannya. Kendati demikian tidak menghilangkan ketermasing-masingan individu pemain. Dan individualitas tidak sama dengan egoisme.

Untuk persepakbolaan Indonesia, CBF Rusdy adalah serupa dengan total football Rinus Michel, atau attacking football Mario Zagalo. Tidak berlebihan kalau pemain sepak bola nasional seperti Aji Santoso, Jacksen F Tiago, Mustaqim menempatkan Rusdy sebagai Sang Legenda .

Bukan hanya kemampuannya melakukan inovasi teknik-strategi dengan CFB, bagi pemain yang pernah diasuhnya, Rusdy adalah teladan. Sangat menjaga hubungannya dengan Tuhan. Sikapnya yang tenang dalam mengambil keputusan. Dia tidak terlalu gembira ketika timnya menang. Demikian pula dia tidak terlalu sedih ketika timnya kalah.

Dia mengambil sikap ummatan wasthan (umat tengah), moderat.

Rusdy dikenal tidak suka grusa-grusu. Dia paham betul ajaran bahwa tergesa-gesa itu perbuatan setan. Untuk itulah dia selalu bersikap teduh dan tenang, termasuk ketika yang lainnya panik.

Sang Legenda telah meninggalkan persepakbolaan Indonesia untuk selamanya. Semoga generasi setelah dia bisa mengembangkan CFB yang dia letakk an dasarnya. Generasi berikutnya mampu mewujudkan keinginannya menjadikan Indonesia sebagai macan sepak bola Asia, bahkan dunia.

Selamat jalan, Ustad Rusdy.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau