Bahan pokok

Rencana Impor Beras Vietnam Ditentang

Kompas.com - 09/08/2011, 03:09 WIB

Kalianda, Kompas - Kalangan petani menolak rencana Perum Bulog Divisi Regional Lampung untuk mendatangkan beras impor asal Vietnam. Kebijakan ini dianggap menyejahterakan petani luar ketimbang dalam negeri.

Penolakan impor beras ini salah satunya disampaikan Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Provinsi Lampung. Menurut Humas PPNSI Lampung Sabiqul Iman, Senin (8/8), rencana impor ini bertentangan dengan prestasi surplus beras yang dicapai oleh Lampung saat ini.

Pada 2011 ini, berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik, produksi beras di Lampung mencapai 3 juta ton atau surplus hingga 840.000 ton.

”Dengan perkiraan rata-rata harga beras Vietnam 500 dollar AS per ton, Bulog akan menghabiskan dana Rp 2,1 triliun untuk impor 500.000 ton beras. Ini lebih menyejahterakan petani Vietnam dibanding petani lokal,” kata Sabiqul.

Berdasarkan informasi yang diperoleh PPNSI, beras asal Vietnam ini akan mulai masuk di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, mulai Agustus hingga Oktober ini. Beras ini rencananya akan disalurkan untuk sejumlah wilayah di Sumatera bagian selatan, seperti Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Sumsel.

Menurut Sabiqul, beras-beras yang digunakan untuk stok Bulog ini dikhawatirkan akan ”bocor“ mengalir ke pasaran sehingga memengaruhi harga beras petani. Daripada memakai beras impor, lebih baik Bulog memanfaatkan pengadaan di tingkat lokal.

”Harga beras yang tinggi menyusul datangnya Idul Fitri tidak bisa dijadikan alasan untuk impor. Idul Fitri hanya terjadi setahun sekali. Apalagi, tahun ini, ada Inpres Nomor 8 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pengamanan Cadangan Beras, yang memberikan keleluasaan Bulog menyerap beras/gabah petani dengan harga lebih tinggi,” katanya.

Kepala Bulog Lampung Bakri mengatakan, pihaknya masih kesulitan memenuhi target pengadaan beras pada tahun ini. Dari rencana pengadaan 125.000 ton, realisasinya baru 39.500 ton. Untuk kebutuhan penyaluran raskin, Bulog Lampung membutuhkan tambahan sedikitnya 40.000 ton. Inilah yang akan didatangkan dari luar, termasuk dari impor. Tahun lalu, Bulog Lampung juga mendatangkan puluhan ribu ton beras dari Vietnam.

Puso

Di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa barat, sebanyak 492 hektar sawah dari 49.000 hektar total persawahan dinyatakan puso. Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya menyebutkan, lahan puso itu tersebar di 28 kecamatan.

Kepala Seksi Produksi Padi Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Yanyan Hendrayani mengatakan, puso disebabkan sawah tadah hujan sejak sebulan terakhir tidak lagi mendapatkan pasokan air. Padahal, rata-rata tanaman padi tersebut baru berusia dua bulan.

Mengantisipasi musim kemarau, para petani padi di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memilih menahan sebagian besar hasil panennya. Akibatnya, pasokan gabah di pasaran terbatas dan menyebabkan harga stabil tinggi. Petani hanya menjual rata-rata 25 persen dari seluruh hasil panen musim kemarau ini. (CHE/GRE/JON)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau