Kalianda, Kompas
Penolakan impor beras ini salah satunya disampaikan Perhimpunan Petani dan Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI) Provinsi Lampung. Menurut Humas PPNSI Lampung Sabiqul Iman, Senin (8/8), rencana impor ini bertentangan dengan prestasi surplus beras yang dicapai oleh Lampung saat ini.
Pada 2011 ini, berdasarkan prediksi Badan Pusat Statistik, produksi beras di Lampung mencapai 3 juta ton atau surplus hingga 840.000 ton.
”Dengan perkiraan rata-rata harga beras Vietnam 500 dollar AS per ton, Bulog akan menghabiskan dana Rp 2,1 triliun untuk impor 500.000 ton beras. Ini lebih menyejahterakan petani Vietnam dibanding petani lokal,” kata Sabiqul.
Berdasarkan informasi yang diperoleh PPNSI, beras asal Vietnam ini akan mulai masuk di Pelabuhan Panjang, Bandar Lampung, mulai Agustus hingga Oktober ini. Beras ini rencananya akan disalurkan untuk sejumlah wilayah di Sumatera bagian selatan, seperti Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Sumsel.
Menurut Sabiqul, beras-beras yang digunakan untuk stok Bulog ini dikhawatirkan akan ”bocor“ mengalir ke pasaran sehingga memengaruhi harga beras petani. Daripada memakai beras impor, lebih baik Bulog memanfaatkan pengadaan di tingkat lokal.
”Harga beras yang tinggi menyusul datangnya Idul Fitri tidak bisa dijadikan alasan untuk impor. Idul Fitri hanya terjadi setahun sekali. Apalagi, tahun ini, ada Inpres Nomor 8 Tahun 2011 tentang Kebijakan Pengamanan Cadangan Beras, yang memberikan keleluasaan Bulog menyerap beras/gabah petani dengan harga lebih tinggi,” katanya.
Kepala Bulog Lampung Bakri mengatakan, pihaknya masih kesulitan memenuhi target pengadaan beras pada tahun ini. Dari rencana pengadaan 125.000 ton, realisasinya baru 39.500 ton. Untuk kebutuhan penyaluran raskin, Bulog Lampung membutuhkan tambahan sedikitnya 40.000 ton. Inilah yang akan didatangkan dari luar, termasuk dari impor. Tahun lalu, Bulog Lampung juga mendatangkan puluhan ribu ton beras dari Vietnam.
Di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa barat, sebanyak 492 hektar sawah dari 49.000 hektar total persawahan dinyatakan puso. Data Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya menyebutkan, lahan puso itu tersebar di 28 kecamatan.
Kepala Seksi Produksi Padi Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tasikmalaya Yanyan Hendrayani mengatakan, puso disebabkan sawah tadah hujan sejak sebulan terakhir tidak lagi mendapatkan pasokan air. Padahal, rata-rata tanaman padi tersebut baru berusia dua bulan.
Mengantisipasi musim kemarau, para petani padi di wilayah Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, memilih menahan sebagian besar hasil panennya. Akibatnya, pasokan gabah di pasaran terbatas dan menyebabkan harga stabil tinggi. Petani hanya menjual rata-rata 25 persen dari seluruh hasil panen musim kemarau ini.