Guillain barre syndrome

Berat Badan Jadi Ukuran Harga Obat

Kompas.com - 09/08/2011, 12:25 WIB

KOMPAS.com Kedua orangtua Azka Arriziq pada mulanya tak mengerti apa itu sindrom GuillainBarre alias Guillain-Barre Syndrome (GBS). Mereka hanya tahu, buah hati mereka yang masih berumur empat tahun itu pada awalnya merasa kesemutan.

Setelah itu, kondisi Azka terus memburuk hingga terbaring koma selama tujuh hari di ruang ICU Rumah Sakit Azra, Bogor, Jawa Barat. Jantung Azka berdetak lemah, begitu juga kondisi organ tubuh lainnya, termasuk paru-paru yang tak lagi mampu memompa oksigen. Untuk bertahan hidup, Azka harus menggunakan alat bantu pernapasan atau ventilator yang diawasi selama 24 jam.

Kini Azka terbaring di ruang perawatan intensif Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Yang lebih menyayat hati, Azka tak sendirian. Ada juga Shafa Azalia berusia enam tahun, putri Zulkarnain.

Berbeda dengan Azka, sudah sejak 17 Oktober 2010, Shafa mengidap kelumpuhan akibat GBS. Sebelum pindah ke RSCM, Shafa sempat terbaring lemah di Rumah Sakit St Carolus. Sama seperti Azka, Shafa menggantungkan hidupnya pada kemampuan ventilator dan obat-obatan khusus.

Tak cukup dengan penyakit yang diderita anak mereka, orangtua Azka dan Shafa harus berhadapan dengan biaya pengobatan yang tak terhitung mahalnya. Pasalnya, GBS hanya memiliki satu obat yang bernama Gamimune atau Immunne Globulin. Harga satu botol Gamimune ini antara Rp 4 juta dan Rp 5 juta.

Menurut Roul Sibarani, Neurologis Rumah Sakit Mochtar Riady Comprehensive Cancer Centre Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, pemberian dosis Immune Globulin ini tergantung dari berat badan pasien. Dia memberi contoh, selama tujuh hari, biaya pemberian Immune Globulin penderita seberat 60 kilogram (kg) dapat mencapai Rp 70 juta.

"Jadi ada rumus pemberian dosisnya. Semakin besar badannya, maka obat yang diberikan juga semakin banyak," papar Roul.

Mulyadi Tedjapranata, Direktur Klinik Medizone, Jakarta, mengungkapkan, dosis pemberian Immune Globulin adalah 400 miligram (mg) per kg berat badan penderita GBS.

Sebenarnya, terdapat teknik pengobatan GBS yang lebih murah, yakni plasma paresis. Lewat plasma paresis ini, plasma darah penderita GBS akan dicuci untuk menghilangkan antigen yang merusak. Biaya pencucian darah ini sebesar Rp 50 juta per sekali cuci.

Hanya, lanjut Roul, teknik pengobatan plasma paresis ini menimbulkan banyak komplikasi. "Selain itu, tidak semua rumah sakit dapat melakukan plasma paresis ini. Yang dikhawatirkan adalah efek samping dari pencucian ini terhadap tubuh penderita," papar Roul.

Selain itu, dokter neurologis juga kerap memberikan metil-trednisolon, sejenis steroid kepada pasien GBS. Hanya, Roul menegaskan, pemberian steroid ini hanya disarankan kepada pasien GBS dengan kondisi kronis. "Tidak disarankan kepada pasien tahap awal," terang Roul. (Kontan/Raymond Reynaldi)

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau