Indrasyarif: Klub LPI Statusnya Tak Jelas

Kompas.com - 09/08/2011, 20:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris tim Persija Jakarta, Ferry Indrasyarif, menegaskan rasa tidak setujunya akan wacana untuk menggabungkan klub-klub dari Indonesia Super League (ISL) dan Liga Primer Indonesia (LPI) dalam satu format kompetisi.

Sesuai syarat yang diberikan AFC, PSSI meminta para klub yang ingin berkompetisi dalam ISL edisi berikutnya untuk memenuhi aspek legal, finansial, administrasi personel, supporting dan infrastruktur. Lalu, diharapkan seluruh klub yang ingin berpartisipasi telah menyerahkan dokumen yang menunjukkan kelengkapan syarat itu ke PSSI pada 22 Agustus, dan tiga hari setelahnya baru diumumkan klub mana saja yang lolos verifikasi.

Masalah muncul bila ada satu atau lebih klub asal LPI yang lolos verifikasi. Beberapa pihak merasa tak adil bila klub-klub LPI yang kebanyakan usianya baru seumur jagung langsung diperbolehkan untuk bersaing dalam kompetisi yang sama dengan klub-klub ISL. Hal itu karena, untuk bisa berkompetisi di ISL, para klub peserta harus bisa melewati jenjang panjang dari kompetisi liga amatir dan Divisi Utama terlebih dahulu.

Indrasyarif juga mengungkapkan rasa tak setujunya akan wacana tersebut. "Kalau saya jelas tidak setuju. Kenapa harus dibuat menjadi satu (antara klub ISL dan LPI)? Menurut saya, yang sudah ada saja dibuat lebih bagus. Kekurangan-kekurangan yang ada selama ini juga diperbaiki," ujar Indrasyarif saat diwawancara secara eksklusif oleh Kompas di Mess Persija, Ragunan.

"Kalau LPI itu kan klub baru. Jadi anggota PSSI saja belum. Apa mereka pernah mengajukan diri menjadi anggota, kan engga pernah, engga ada arsip dan berkasnya. Masa kita merger sama klub yang 'engga jelas' seperti itu? Jadi, jelas kalau saya sangat tidak setuju."

Menurut Indrasyarif, bila klub-klub LPI dibiarkan bergabung, suatu saat bisa saja terulang lagi hal yang sama dengan munculnya klub baru yang ingin menggabungkan diri secara instan dengan ISL. "Begini, kalau nanti ada klub baru lagi yang (mengaku) profesional, lalu bisa langsung jadi profesional beneran dong? Semua itu kan ada aturannya. Kita engga bisa langsung potong kompas begitu," ujar Indrasyarif kembali.

"Lalu, saya juga menolak kalau mereka (klub LPI) dibilang profesional. Profesional dari segi apanya? Bila dikatakan kita dananya dari APBD, mereka dananya juga dari Arifin (Panigoro, penggagas LPI). Kalau dibilang dana yang mereka dapatkan berupa pinjaman saja, apakah mereka bisa melunasinya? Harus ada keterbukaan dulu dari pihak LPI."

Agar klub-klub LPI dapat ikut berkompetisi di ISL, Indrasyarif berujar, "Pertama, mereka harus masuk dulu menjadi anggota dan ikut aturan mainnya. Kemudian, diverifikasi yang benar, apakah mereka benar-benar masuk dalam kategori profesional?"

Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, menegaskan bahwa kompetisi ISL akan mulai bergulir pada 8 Oktober 2011, atau enam hari sebelum tenggat waktu yang diberikan oleh AFC. Bila sampai tanggal 14 Oktober kompetisi belum bergulir, Indonesia akan mendapat hukuman larangan dari AFC untuk mengirimkan wakilnya ke kompetisi Asia selama tiga musim berturut-turut.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau