JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris tim Persija Jakarta, Ferry Indrasyarif, mengatakan bahwa waktu yang diberikan AFC hingga 14 Oktober bagi PSSI untuk mempersiapkan kompetisi dengan format baru tidaklah cukup. Hal itu karena banyak yang harus dipersiapkan oleh PSSI dan para klub pesertanya sehingga segala sesuatunya tak bisa berjalan instan.
Dalam persiapannya, setiap klub yang ingin berpartisipasi harus memenuhi syarat-syarat yang diajukan oleh AFC dan PSSI, yaitu mengenai aspek legal, finansial, administrasi personel, supporting dan infrastruktur. Masalah yang dirasa paling memberatkan para klub adalah perihal aspek finansial.
Pada poin tersebut, klub-klub ingin berkompetisi di level satu harus menyediakan dana deposit sebesar Rp 5 miliar dan budgeting cap untuk membatasi anggaran klub sebesar Rp 15 miliar. Lalu untuk kompetisi level dua, klub harus menyediakan deposit Rp 2 miliar serta budgeting cap Rp 8 miliar. Indrasyarif merasa hal ini cukup memberatkan Persija dan tim-tim lainnya dalam mempersiapkan diri menjadi klub profesional.
"Yang jelas, dua-duanya saya kurang setuju. Begini, untuk menjadi klub yang profesional, sebetulnya BLI (Badan Liga Indonesia) telah merancang supaya pada 2012 seluruh klub ISL bisa benar-benar profesional dalam arti sesungguhnya. Tapi untuk itu kan perlu tahap," ujar Indrasyarif saat diwawancara secara eksklusif oleh Kompas.com.
"Pada saat kita dilanda untuk tidak lagi menggunakan dana APBD, engga masalah, tapi kita juga jangan diwajibkan untuk memberi jaminan sebesar Rp 5 miliar. Jelas itu memberatkan semua klub. Lalu kalau budgeting cap itu tergantung pasar saja. Kalau klub itu sanggup beli pemain dengan budget yang lebih besar ya silahkan saja."
Selain itu, PSSI juga menetapkan bahwa setiap klub hanya diperbolehkan mengontrak pemain dengan nilai maksimal Rp 500 juta dengan jangka waktu minimal tiga tahun untuk kompetisi level satu. Bagi kompetisi level dua, pemain hanya bisa dikontrak dengan nilai tak lebih besar dari Rp 350 juta dan jangka waktu minimal yang sama, tiga tahun.
"Kalau pembatasan gaji pemain, mungkin ada bagusnya. Walaupun kembali lagi, untuk penerapannya itu sulit. Hal itu kembali lagi pada klub masing-masing," tutur Indrasyarif kembali.
Satu lagi perubahan yang akan dijalankan oleh PSSI adalah mengenai pembatasan pemakaian jasa pemain asing bagi masing-masing klub. Sebelumnya, klub-klub peserta diperbolehkan menggunakan jasa tiga pemain non-Asia dan dua asal Asia. Saat ini, klub level satu hanya bisa menggunakan tiga pemain non-Asia dan satu pemain Asia, sementara untuk level dua hanya dua pemain non-Asia dan satu pemain Asia.
Indrasyarif sendiri tak merasakan masalah berarti dengan diterapkannya peraturan baru ini. Ia mengatakan, "Hal itu engga masalah. Sebetulnya kalau menurut saya, pemain asing (jumlahnya) tak usah terlalu banyak. Tiga pemain saja (dalam satu klub) sudah cukup, karena biasanya kan kita menggunakan satu pemain asing di belakang, tengah dan depan yang menjadi tulang punggung tim. Jadi kita bisa memberi kesempatan pada pemain lokal untuk berkembang."
Lalu para pemain asing yang dikontrak pun diharapkan bukan pemain sembarangan, melainkan dapat menjadi panutan bagi pemain-pemain lokal lainnya di Indonesia. "Pemain asing itu harus bisa memberikan contoh (baik) di dalam dan di luar lapangan," ujarnya.
Setelah itu, bila para klub telah menyerahkan dokumen perihal kesiapan mereka mengikuti kompetisi pada 22 Agustus, PSSI akan segera melakukan verifikasi dan mengumumkan nama-nama klub yang lolos pada 25 Agustus mendatang. Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, mengatakan bahwa kompetisi akan mulai bergulir pada 8 Oktober, atau enam hari sebelum tenggat waktu yang diberikan AFC. Bila tenggat ini dilanggar, Indonesia akan mendapat hukuman dari AFC untuk tak boleh mengirimkan wakilnya pada kompetisi Asia selama tiga musim berturut-turut.
Melihat hal ini, Indrasyarif merasa waktu yang diberikan AFC terlalu singkat. "Menurut saya, lebih baik kita membuat bagus bagian internalnya dahulu. Soal kita engga boleh ikut (kompetisi Asia) itu engga masalah, daripada kita memaksakan ikut (walau belum siap)," katanya.
"Menurut saya, waktu yang diberikan kurang. Hal itu karena PSSI ingin melakukan banyak perubahan, salah satunya penggabungan (klub ISL dan LPI) yang tidak mudah dilakukan. Lalu verifikasinya sekarang kan lebih ketat, berarti itu butuh waktu yang lebih banyak. Kepastian kapan digelarnya kompetisi juga baru dikasih tahu sekarang, padahal kita kan butuh waktu untuk gerilya pemain lagi."
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang