Menjelang lebaran

Kelangkaan BBM Hantui Pemudik

Kompas.com - 10/08/2011, 11:06 WIB

PANGKAL PINANG, KOMPAS.com — Kelangkaan bahan bakar minyak menghantui para pemudik di Kepulauan Bangka Belitung. Kelangkaan itu dikhawatirkan menjadi salah satu faktor pemicu keributan selama masa mudik Lebaran 2011.

Kepala Dinas Perhubungan Kepulauan Bangka Belitung M Ilyas mengatakan, belum ada kepastian akan ada tambahan pasokan BBM selama musim mudik dan balik. Padahal, jumlah kendaraan dipastikan meningkat.

"Pada hari biasa saja sering terjadi kelangkaan BBM," kata Ilyas, Rabu (10/8/2011), di Pangkal Pinang.

Kelangkaan terutama dikhawatirkan terjadi di Bangka Barat dan Belitung. Bangka Barat merupakan pintu gerbang utama dari Sumatera ke Bangka melalui laut. Sementara Belitung adalah pintu masuk utama ke Pulau Belitung, baik melalui udara maupun laut.

"Kami khawatir kekurangan BBM ini akan memengaruhi operasi angkutan Lebaran," ujarnya.

Sementara Direktur Intelijen Keamanan Polda Kepulauan Bangka Belitung Komisaris Besar Agus Saripul mengatakan, kelangkaan BBM merupakan salah satu faktor pemicu kericuhan selama masa mudik. Polisi akan membantu manajemen SPBU dan Pertamina untuk mengatur antrean pembelian BBM.

"Tetapi, pencegahan gangguan keamanan tetap tergantung pada pasokan BBM dari Pertamina. Kalau BBM tidak ada, kami tidak bisa membantu," tutur Agus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau