Mudik 2011

Inilah Kereta Sekelas Hotel Bintang Lima

Kompas.com - 10/08/2011, 11:53 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Selama ini kesan kereta api di Indonesia memang tidak selalu bagus, mulai dari penumpang yang penuh sesak, telatnya jadwal keberangkatan, hingga banyak terganggunya jalur rel karena pencurian besi rel. Hal-hal demikian banyak membuat masyarakat enggan bepergian dengan menggunakan kereta api.

Tapi beberapa tahun ke belakang, PT Kereta Api Pariwisata, di bawah lisensi PT Kereta Api Indonesia (KAI) membuat terobosan kereta wisata. Kereta ini sekelas hotel berbintang 5 agar para penumpangnya merasa seperti bepergian dengan pesawat terbang.

Kereta wisata ini awalnya hanya digunakan untuk urusan kepresidenan. Namun, saat ini dapat digunakan oleh masyarakat umum.

Menurut Sugeng Sugiharto, Vice President Operational PT Kereta Api Pariwisata saat diwawancarai Kompas.com, Selasa (9/8/2011), banyak keuntungan yang didapat dari memasarkan kereta wisata kepada masyarakat umum dibandingkan dengan menyimpan saja kereta ini saat presiden tidak menggunakannya.

“Daripada disimpan saja, kan lebih baik digunakan untuk umum. Selain keuntungan materi, kereta ini pun tidak cepat menjadi usang karena hanya di parkir saja,” ucap Sugeng.

Kereta wisata ini, lanjut Sugeng, memiliki 3 jenis: Bali, Nusantara, dan Toraja. Perbedaan kereta tersebut hanya pada ukiran yang mencirikan daerah tersebut dan sewa perorangan dan grup.

“Sebenarnya tidak ada perbedaan dalam kereta ini, hanya kereta Toraja untuk disewa perorangan, sedangkan Bali dan Nusantara untuk grup, 1 grup maksimal 22 orang,” lanjut Sugeng.

Kereta wisata ini memiliki kapasitas maksimal 22 orang dengan fasilitas sekelas hotel berbintang, seperti VVIP room, AC, minibar, ruang audio/video untuk karaoke, serta toilet yang dilengkapi jacuzzi. Kereta ini biasanya diberangkatkan dari stasiun Gambir, tapi dapat pula sesuai pesanan pemesan ingin diberangkatkan dari kota manapun. Tujuannya pun tergantung pemesan, namun lazimnya kereta ini menuju Purwokerto, Yogyakarta dan Solo.

Kereta wisata ini sebenarnya sebuah gerbong eksklusif yang saat digunakan digabung dengan kereta umum. Namun, pengamanan dalam gerbong kereta wisata ini lebih ketat. Selain para penumpang kereta wisata, tidak ada yang bisa masuk walaupun berada dalam 1 kereta. Tak hanya pengamanan, kereta wisata ini juga disertai dengan tour leader yang dapat memenuhi kebutuhan para penumpangnya.

Intinya, menurut Sugeng, kereta ini didesain khusus untuk memanjakan para penumpangnya agar perjalanan di dalam kereta bisa senyaman menggunakan pesawat.

Masalah kelancaran perjalanan, Bambang S, Direktur Operasional PT Kereta Api Pariwisata mengatakan, jalur kereta yang ditempuh kereta wisata ini benar-benar dipastikan aman tanpa gangguan.

“Jalur kereta wisata benar-benar telah dipastikan keamanannya. Kami tidak akan mengoperasikan kereta di jalur yang bermasalah,” ucap Bambang saat menanggapi pencurian besi rel kereta.

Sejauh ini telah banyak yang telah menggunakan jasa kereta wisata ini. Sugeng menambahkan, rata-rata pengguna kereta wisata ini adalah perusahaan negara dan swasta, serta keluarga besar yang ingin berlibur menggunakan kereta.

“Telah banyak pihak yang telah menggunakan kereta wisata ini. Biasanya para keluarga, perusahaan negara dan perusahaan swasta,”

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau