Jelang lebaran

MUI Garut Ikut Razia Ayam "Tiren"

Kompas.com - 12/08/2011, 15:55 WIB

GARUT, KOMPAS.com - Beredarnya isu tentang maraknya penjualan ayam mati kemarin (ayam tiren) di beberapa pasar di Kabupaten Garut, membuat warga was-was.

Satuan Polisi Pamong Praja, Majelis Ulama Indonesia lantas turun ke pasar untuk melakukan inspeksi mendadak ke beberapa pasar di Kabupaten Garut, Jumat (12/8/2011).

Menurut Kepala Satpol PP Kabupaten Garut Suherman inspeksi dilakukan menyusul munculnya desakan masyarakat untuk memastikan keberadaan ayam tiren tersebut. "Kabarnya banyak oknum pedagang yang menjual ayam tiren dan ayam glongongan (disuntik air), akhirnya untuk memastikan hal tersebut, kami bersama-sama MUI sidak ke beberapa pasar," katan Suherman.

Hal yang sama juga disampaikan Endang Yusuf dari MUI. Ia bahkan mengatakan penjualan ayam tiren, maupun ayam glonggongan dapat dikategorikan sebagai tindak penipuan dengan sanksi pidana. 

"Barang siapa yang menjual bangkai (ayam tiren), maka hukumnya haram, lalu apabila ada yang menjual ayam disuntik termasuk ke dalam penipuan, karena menyuntikan air ke dalam tubuh ayam, sehingga timbangan menjadi berat, jelas ini adalah penipuan," katanya.

Namun, dalam sidak ini, tim tersebut tidak menemukan adanya ayam tiren maupun ayam glonggongan yang dijual di pasar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau