Umar Patek Mentions Bombing Details

Kompas.com - 12/08/2011, 17:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesian police said Friday the alleged coordinator of the 2002 Bali attacks has explained how he assembled the bombs and handed the switch to an accomplice.

Umar Patek has been cooperating with police interrogators since his extradition Thursday from Pakistan, where he was arrested in January in the town where Osama bin Laden was subsequently killed by US commandos.

“He has confessed to helping to assemble the bombs for the Bali bombing, and worked with Azahari. The switch was handed to Azahari,” police spokesman Anton Bachrul Alam said.

Azahari was a Malaysian extremist who police killed in a shootout in 2005 as they hunted members of the Jemaah Islamiyah terror network responsible for the Bali bombings, which killed 202 people mainly Western tourists. Alam said Patek had also confessed to carrying out a series of church bombings in Indonesia on Christmas Eve 2000, which killed 19 people.

After the deadlier attacks on the resort island of Bali two years later, which made Indonesia a front-line state in the “war on terror” and triggered a massive manhunt, Patek fled to the Philippines. Patek is also wanted in the Philippines, where he allegedly plotted attacks with militants after escaping the Indonesian dragnet.

He returned to Indonesia in 2009 to join Dulmatin, another Bali cohort who was setting up a regional terror cell dubbed Al-Qaeda in Aceh at the time. Police killed Dulmatin shortly afterwards.

“Umar Patek knew of the goings-on in Aceh (province). We hope that now he’s here, we can find out who else is in his network so we can go after them,” Alam said.

Patek, 41, may not be charged under Indonesia’s tough anti-terror law because his alleged crimes were committed before it was introduced. Even so he could face the death penalty for multiple murder counts.

As the last Bali mastermind still on the run, Patek was one of Asia’s most wanted terror suspects and a $1 million bounty on his head under the US rewards for justice programme. He was arrested with his Filipina wife, who is also in Indonesian custody for allegedly travelling on a false Indonesian passport.

Indonesian officials are hoping Patek will give valuable information on JI and other Southeast Asian terror networks. Defence Minister Purnomo Yusgiantoro said previously there was information that he had been trying to meet bin Laden in Abbottabad before his arrest on January 25, but this has not been confirmed.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau