JAMBI, KOMPAS.com - Dinas Perhubungan Kota dan Kabupaten diminta mendirikan pos terpadu dan menyiagakan aparatnya di tiap pasar tumpah, terutama yang berada di sisi jalur padat lalu lintas.
Kabid Perhubunga darat Dinas Perhubungan Provinsi Jambi, Anwar Harminto di Jambi, Jumat (12/8/2011) mengatakan, pasar tumpah termasuk salah satu penghambat atau penyebab kemacetan arus lalu lintas, terutama pada mudik dan balik lebaran.
"Di kota dan sejumlah kabupaten dalam Provinsi Jambi juga banyak terdapat pasar tumpah berda di sisi jalur penghubung dan jalur lintas Sumatera (Jalinsum) serta jalur lintas timur (Jalintim)," katanya.
Untuk mengatasi kemacetan arus lalu lintas terutam pada mudik dan balik lebaran 1432 Hijriah, Dinas Perhubungan setempat diperintahkan mendirikan pos terpadu di pasar tumpah tersebut.
Pos terpadu itu bernanggotakan berbagai instansi terkait, termasuk aparat kepolisian yang bertugas mengatur kelancaran lalu lintas. Ada sejumlah pasar tumpah yang cukup mengganggu dan menghambat arus lalu lintas, seperti di Desa Mersam, Tempino. Sungai Bengkal, Kayu Aro dan lainnya.
Selain mendirikan dan menyiagakan pos terpadu di pasar tumpah, Dinas Perhubungan setempat juga harus menyiagakan pos di daerah rawan kecelakaan dan kemacetan. Dinas Perhubungan setempat juga sudah menginventarisi daerah rawan kecelakaan dan kemacetan serta rawan bencana seperti longsor.
Pada daerah rawan itu harus disiagakan segala sesuatu untuk meperlancar arus lalu lintas, seperti alat berat pada daerah rawan longsor, ambulan dan tim medis pada daerah rawan kecelakaan dan lainnya.
"Kita berupaya arus mudik dan balik lebaran 1432 Hijriah tetap berjalan aman dan lancar serta terhindar dari kecelakaan yang merenggut korban jiwa, untuk itu berbagai instansi terkait diminta berperan aktif menata dan mengatur arus mudik dan balik lebaran tersebut," kata Anwar Harminto.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang