Hari pramuka

Lintas Racana, Mahasiswa yang Cinta Pramuka

Kompas.com - 14/08/2011, 16:27 WIB

KOMPAS.com - Jangan dikira Pramuka hanya menjadi kegiatan ekstrakurikuler bagi para siswa di SD ataupun SMP. Para mahasiswa pun masih ada yang gandrung mengikuti kegiatan ini. Tak percaya? Yang pasti kegiatan yang dijalani memang dengan konsep yang berbeda. Nama organisasi kepramukaan yang digagas mahasiswa ini bernama Racana yang berdiri pada tahun 2005.

Pada awalnya, Racana digagas oleh para anggota Pramuka dalam Saka Bhayangkara. Keprihatinan melihat pramuka tidak berkembang di tingkatan mahasiswa membuat wakil dari lima universitas berinisiatif untuk membentuk Lintas Racana.

Menurut Vera, salah satu pengagas Lintas Racana, mereka mempunyai cara unik untuk mempromosikan komunitas ini yaitu dengan informasi dari mulut ke mulut. Para anggota menghubungi anggota Pramuka di berbagai kampus, lalu mengajak mereka untuk membuat Racana di kampusnya.

"Hingga akhirnya dalam kurun waktu satu tahun berhasil mengumpulkan 17 universitas untuk ikut masuk dalam organisasi ini," jelasnya kepada Kompas.com, pekan lalu.

Vera mengatakan, dasar terbentuknya organisasi ini karena adanya keinginan membentuk komunitas dan saling berbagi. "Kami menyesuaikan kebutuhan anak muda yang butuh sebuah wadah untuk nongkrong. Tapi memiliki nilai tambah karena diajarkan beberapa keahlian," paparnya.

Menurut alumni Universitas Bung Karno ini, banyak keahlian yang diberikan kepada anggota melalu Kesatuan Karya (Saka).

"Di Pramuka ada beberapa Saka yang dikenal, misalnya saja Saka Bhayangkara yang bekerjasama dengan Polri, Saka Bahari yang berkerjasama dengan Angkatan Laut, Saka Dirgantara yang bekerjasama dengan Angkatan Udara, dan masih ada lima Saka lainnya," jelasnya. Dari Saka tersebut, para mahasiswa bisa mendapatkan keahlian yang lain, tidak hanya nongkrong atau sekedar hangout," tambahnya.

Hingga saat ini, anggota Lintas Racana sudah tercatat ratusan orang. Uniknya, mereka tidak terikat dengan kegiatan organisasi.

"Kami tidak ingin mengikat, karena walau bagaimana pun kuliah tetap nomor satu. Ketika ada anggota yang terbentur jadwalnya dengan kegiatan perkuliahan, maka kami akan meminta mereka mendahulukan kuliahnya terlebih dahulu," katanya.

Salah satu anggota yang tergabung dalam Lintas Racana adalah Anisa Irnawati dari Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang sudah aktif sejak awal tahun 2011. Ia merasakan bahwa dengan mengikuti kegiatan seperti ini dapat menambah jaringan dan menyambung silaturahim.

"Anggota Lintas Racana sudah banyak. Bahkan ada anggota yang dari Medan dan Ambon, membuat kami menambah teman. Selain itu, kegiatan Lintas Racana sangat menyenangkan. tidak ada paksaan sehingga kami enjoy dalam menjalankan tugas," jelas mahasiswi jurusan Jurnalistik angkatan 2010 ini.

Tak hanya Anisa, tetapi ratusan mahasiswa lain juga merasakan hal yang sama. Bahkan, menurut Vera, saat ini sudah banyak Pramuka di universitas yang ingin menjadi anggota Lintas Racana.

"Tapi, kami tak menutup kemungkinan untuk merekrut orang-orang yang ingin masuk di Lintas Racana tanpa melalui organisasi Pramuka di universitasnya. Jadi, kami siap menerima individu yang ingin belajar lebih dalam tentang Pramuka," tandasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau