Tur Politik Suu Kyi

Kompas.com - 15/08/2011, 03:01 WIB

YANGON, MINGGU - Walau relatif lebih leluasa bergerak menemui para pendukungnya di daerah, pemimpin oposisi demokratis Myanmar, Aung San Suu Kyi (66), menilai masih terlalu dini untuk menyimpulkan adanya upaya Pemerintah Myanmar mencairkan hubungan politik dengan dirinya.

Hal itu disampaikan Suu Kyi saat melawat para pendukungnya dan korban banjir di kota Bago dan Thanetpin, Minggu (14/8), sekitar 80 kilometer arah utara bekas ibu kota negara, Yangon.

Rangkaian tur politik ke beberapa daerah itu adalah yang pertama kali kembali dilakukan Suu Kyi pasca-dibebaskan dari status tahanan rumahnya tahun lalu menjelang pemilihan umum di sana.

Jumat lalu Suu Kyi juga bertemu dan berdiskusi selama kurang dari sejam dengan Menteri Perburuhan Aung Kyi. Setelah itu keduanya menggelar pernyataan bersama berisi komitmen untuk saling bekerja sama demi stabilitas pembangunan ekonomi di negeri tersebut.

”Saya paham rakyat sangat ingin tahu rincian isi pembicaraan kami dan Menteri U (sebutan penghormatan) Aung Kyi,” ujar Suu Kyi di Bago.

”Saat ini belum waktunya mengungkap rincian soal pembicaraan itu mengingat masih ada banyak masalah yang harus dilakukan terlebih dahulu. Saya tidak ingin memunculkan harapan palsu dari sebuah keinginan yang mulia. Tolong hal itu dipahami,” tambahnya.

Lebih lanjut Suu Kyi meminta rakyat Myanmar menunjukkan rasa tanggung jawab dengan mendukung perjuangannya. Pertemuan Jumat lalu itu adalah yang kedua kalinya dalam dua pekan terakhir di antara keduanya.

Sementara itu, secara terpisah, Menteri Informasi Kyaw Hsan, dalam jumpa pers yang jarang terjadi, Jumat lalu, di ibu kota negara baru Naypyidaw, menyebutkan, pemerintah akan coba memfasilitasi dan mengakomodasi partai bentukan Suu Kyi, Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), dalam proses rekonsiliasi nasional.

Pernyataan itu kerap diartikan salah satu bentuk lain ”uluran tangan perdamaian” dari pemerintah terhadap Suu Kyi dan partainya.

”Dalam sudut pandang rekonsiliasi nasional, pemerintah mencoba menangani isu NLD secara halus dan berhati-hati. Secara hukum, partai ini memang tak berhak ada, tetapi kami menawarkan kesempatan untuk berkohesi dan bersama-sama melayani negeri ini,” ujar Kyaw Hsan.

Resmi dibubarkan

Sebelumnya, Partai NLD resmi dibubarkan lantaran sebelumnya menolak mendaftarkan diri menjadi peserta pemilu di Myanmar pada November lalu.

Walau begitu, Partai NLD masih terus eksis dan menjalankan fungsi politiknya. Tampak pula pemerintah dan militer saat ini tidak banyak ambil pusing dan membiarkan mereka beraktivitas.

”Jika NLD ingin terlibat dalam politik, mereka harus terlebih dahulu menjadi partai politik legal dengan cara menempuh prosedur formal. Walau bagaimanapun pemerintah akan berbuat sebaik mungkin mengikutsertakan NLD dalam proses rekonsiliasi nasional,” kata Kyaw Hsan menambahkan.

Selama ini Suu Kyi bersikap hati-hati untuk tidak menempatkan pemerintah sebagai pihak antagonis apalagi sampai mengkritik proses pemilu kemarin, yang memang banyak dinilai bermasalah. Dari sisi pemerintah dan militer, mereka juga tampak lebih akomodatif terhadap Suu Kyi. (REUTERS/DWA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau