Antony Lee
Gerakan Seribu Rupiah Peduli Shafa dan Azka tepat sepekan lalu digulirkan di sebuah rumah di Kelurahan Kayu Manis, Jakarta Timur. Beberapa sukarelawan tergerak hati berbuat sesuatu, mengulang kesuksesan Koin Cinta Bilqis, bagi bocah penderita gangguan saluran empedu (atresia bilier
Kali ini sukarelawan mengajak masyarakat mengeluarkan Rp 1.000, sangat boleh lebih, untuk membantu Azka (4) dan Shafa (5), yang tergolek tanpa daya akibat penyakit otoimun, yakni sindrom Guillain-Barre (GBS). Penyakit yang menyerang saraf tepi itu membuat kelumpuhan yang menjalar dari ujung kaki ke tubuh bagian atas. Penyakit ini menjadi berbahaya jika menyerang paru-paru karena membuatnya tak berfungsi.
Selain membuat pasien tak berdaya, penyakit yang menyerang satu dari 100.000 orang itu juga menyebabkan keluarga pasien kelabakan membiayai pengobatan, yang ibarat menuang air ke ember bocor. Tak pernah cukup dan tak tahu kapan berakhir. Bisa setahun, bisa pula dua tahun, atau malah lebih singkat dari itu.
Kini setelah dana terkumpul dan rencananya akan dibagikan kepada Azka dan Shafa, Senin (15/8), orangtua Azka ”menolak” menerima donasi itu. Mereka ingin uang yang terkumpul untuk putranya diberikan kepada pasien GBS lain yang lebih membutuhkan.
”Biaya Azka sudah ditanggung pemerintah. PT Askes menyatakan menanggung semua biaya, tidak terbatas waktu dan nominal. Jadi, tidak etis jika kami tetap mengikuti gerakan peduli Azka,” tutur Rinawati Rina (38), ibu Azka, dalam perbincangan di depan rumah indekosnya di Jalan Kimia, Jakarta Pusat, Minggu siang.
Sudah 10 hari terakhir Rina dan Anto Ariyanto (42), ayah Azka, indekos di sebuah rumah yang lokasinya hanya beberapa ratus meter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sehingga memudahkan pasangan itu menjenguk Azka, putra tunggal dan buah hati yang sungguh mereka kasihi. Maklum, mereka menanti cukup lama. Rina-Anto baru dikaruniai Azka setelah sembilan tahun menikah.
Saat ini Rina dan Anto mengaku sangat bersyukur, beban mereka membiayai pengobatan GBS putranya terangkat dari pundak mereka. Sejak perawatan putranya dipindah dari RS Azra di Kota Bogor, Jawa Barat, ke RSCM, 2 Agustus 2011, biaya pengobatan putra mereka langsung ditangani PT Askes.
Ayah Azka merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di salah satu perguruan tinggi di Riau dengan gaji bersih Rp 2,6 juta per bulan. Sebetulnya sebagai PNS, biaya pengobatan putranya ditanggung Askes. Namun, karena RS Azra, tempat perawatan Azka, belum bekerja sama dengan Askes, mereka harus menanggung seluruh biaya. Memindahkan Azka dalam kondisi saat itu cukup riskan karena ia bergantung pada ventilator untuk bernapas.
Selama 10 hari perawatan Azka di RS Azra, mereka mengeluarkan Rp 107 juta. Uang itu didapat dari membongkar tabungan, menjual kendaraan, serta menggadaikan sertifikat tanah dan bangunan taman kanak-kanak di Kota Bogor, yang dikelola Rina.
Baru setelah kondisi Azka tersebar di media massa, muncul perhatian dari sejumlah pihak, termasuk Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih yang datang mengunjungi Azka di RS Azra. Ia meminta PT Askes membuat perkecualian dan menanggung biaya Azka.
Bahkan, sebagian uang yang sudah dibayarkan diganti PT Askes. Dari biaya Rp 107 juta, manajemen rumah sakit memberikan diskon Rp 20 juta. PT Askes juga sudah mengembalikan Rp 33 juta. Sisanya diupayakan bisa dikembalikan penuh. Kini, setelah terbantu, mereka balik ingin meringankan beban keluarga pasien GBS lainnya.
”Kami tahu pahit getirnya. Kalau melihat keluarga lain mengalami yang sama, jadi terenyuh juga. Kami mau supaya keluarga lain terbantu juga. Masih ada ’Azka’ lain,” tutur Anto.
Rina mengaku, hatinya tak nyaman menerima uang donasi, sementara banyak keluarga penderita GBS lain belum terbantu. Selain itu, ia juga ingin menjaga jangan sampai timbul fitnah mencari keuntungan. Karena itu, ia juga meminta nama Azka dihilangkan dari gerakan mengumpulkan donasi masyarakat.
Jika tetap diberi uang donasi oleh sukarelawan, ia mengaku akan membagi-bagikannya. Untuk siapa saja? Anto mengaku akan meminta informasi dari situs komunitas peduli GBS, yakni peduligbs.blogspot.com.
Pasalnya, selain Shafa dan Azka, masih ada beberapa penderita GBS lain. Salah satu penderita GBS yang berada di Jakarta adalah Tissa Trinovita (17), remaja putri yang sejak dua bulan lalu tergolek lemah di RS Dharmais. Selama dua bulan perawatan di rumah sakit, biaya pengobatan Tissa mencapai Rp 350 juta.
Ketua Gerakan Seribu Rupiah Peduli Shafa dan Azka, drg Silvia Wahyuni, menilai, merupakan hak orangtua Azka jika hendak mengalihkan bantuan kepada penderita GBS lainnya. Namun, dia mengaku akan tetap memberikan donasi yang terkumpul kepada Azka dan Shafa sesuai tujuan awal gerakan.
Menurut dia, bantuan itu rencananya diberikan Senin ini. Hingga Sabtu, donasi melalui rekening sudah mencapai Rp 399 juta, belum termasuk sumbangan dari tujuh posko.
Sedikit berbeda dengan orangtua Azka, Zulkarnain, ayah Shafa, mengaku akan menerima dengan ikhlas berapa pun dana yang diberikan sukarelawan gerakan. Dia mengaku tidak akan menolak bantuan donatur karena pasca-perawatan di rumah sakit pasti masih akan membutuhkan biaya yang kemungkinan tidak ditanggung pemerintah.
Sejak Shafa dirawat di RS Carolus, sebelum dipindahkan ke RSCM, biaya pengobatan putrinya sejak Oktober 2010 mencapai Rp 600 juta. Separuhnya sudah dibayar Zulkarnain, yang merupakan karyawan swasta.
Bagaimanapun, sikap keluarga Azka dan Shafa patut dihormati. Setidaknya selain merasa solidaritas itu masih ada, masyarakat bisa belajar sikap tidak aji mumpung dan berempati, memikirkan penderitaan orang lain.