Transmigrasi

Ketika Transmigran Ketemu Menteri

Kompas.com - 15/08/2011, 10:31 WIB

KOMPAS.com- Suriansyah (46) hanyalah transmigran di daerah terpencil Kalimantan Tengah, tepatnya dari daerah transimgrasi Desa Sukakarya, Kecamatan Jenamas, Kabupaten Barito Selatan. Seumur-umur dia belum pernah naik pesawat, apalagi tidur di hotel bagus dan bertemu Pak Menteri.

Tak heran kalau banyak cerita lucu dari keluguannya saat dirinya diundang Harian Kompas ke Jakarta dan diminta berbicara dalam diskusi bertajuk “Masih Relevankah Program Transmigrasi di Indonesia?” bersama Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Jumat (12/8/2011) lalu.

Untuk bisa ke Jakarta, Suriansyah harus dijemput dari kampungnya yang berjarak 300 kilometer (km) dari Palangkaraya. Hampir 30 km jalan menuju kampungnya hanya bisa dilalui sepeda motor. Beruntung ketika itu musim kemarau, sehingga perjalanan bisa lancar. Sebab, di musim hujan, jalan tak bisa dilewati karena menjadi hamparan lumpur.

Ketika hendak buang air di kamar hotel di Palangkaraya, misalnya, Suriansyah termangu-mangu melihat kloset duduk nan bersih di kamar mandi. Maklum, di kampungnya ia biasa buang air di jamban yang hanya berupa galian tanah ditutup papan yang dilubangi bagian tenganya. Kalau pun pernah melihat atau mengalami buang air agak modern, ya paling kloset jongkok.

Maka, dia pun harus diajari dulu bagaimana menggunakan kloset itu, termasuk bagaimana membersihkan diri dan menarik tuas untuk membilas kotorannya. “Saya memang bingung pakai kloset duduk,” katanya.

Sebagai orang kampung, Suriansyah tentu saja canggung di keramaian. Kalau berjalan, langkahnya pelan dan kepala agak tertunduk. Ketika diberi tahu bahwa dia akan naik pesawat ke Jakarta, matanya berbinar, tetapi juga terpancar kecanggungan. "Saya tak pernah membayangkan naik pesawat," katanya.

Memasuki ruang check in, matanya tak henti menyapu seluruh ruangan. Setelah semua urusan keberangkatan seperti check ini dan membayar pajak bandar udara diselesaikan, dia duduk manis di ruang tunggu.

Sebelum naik pesawat, dia tak melupakan pesan istri dan anak-anaknya agar memotreti pesawat yang akan ditumpanginya. Dengan bersemangat, dia foto badan dan tangga pesawat menggunakan kamera telepon selulernya. Setelah diantar sampai ke tempat duduknya di dalam kabin pesawat, Suriansyah asyik menatap pemandangan dari balik jendela. Sebelum terbang, Suriansah masih tetap semangat memfoto-foto pesawat dengan kamera telepon selulernya.

“Ini, anak sama ibunya di desa pesan kalau bisa potret pesawatnya. Kalau cerita saja, mungkin enggak percaya,” ujar Suriansah sedikit tersipu.

Karena keasyikan memotret di dalam kabin, ia sampai harus diingatkan pramugari yang cantik bahwa di dalam pesawat telepon seluler harus dimatikan. Suriansah pun mengangguk-angguk.

Setibanya di Jakarta, ia kembali mengambil gambar bertubi-tubi hingga keluar dari pesawat. Foto-foto masih dilakukan di sepanjang perjalanan hingga sampai di hotel.

Di Jakarta, awalnya ia masih tetap ceria dan bercerita tentang apa saja yang akan dia sampaikan dalam diskusi yang juga dihadiri Pak Menteri. Akan tetapi, semakin mendekati acara, Suriansah terlihat mulai gugup. Ia kian jarang berkata-kata.

Di kantor Kompas yang menjadi tempat diskusi itu, Suriansah hanya duduk di kursi paling belakang menunggu acara diskusi dimulai. Puncaknya, saat Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar datang. Tak sepatah kata pun terucap lagi darinya.

“Ayo Pak, silakan di sini. Sudah disediakan untuk Bapak,” ujar seorang wartawan Kompas sampai harus meminta Suriansah pindah ke tempat duduk untuk pembicara. Suriansah yang malu-malu pun beranjak.

Saat gilirannya berbicara, suara Suriansah lirih, pelan, dan agak terbata-bata. “Memang, saya gugup dan cemas waktu giliran berbicara. Makanya, penjelasan saya kurang terarah. Padahal, masih banyak yang ingin saya sampaikan,” tuturnya seusai acara.

Suriansah hanya mengenakan t-shirt tipis dan lusuh. Sungguh kontras dengan para pejabat yang berbatik necis, setidaknya kemeja lengan panjang rapih. Padahal, saat dikabari lewat telepon bahwa ia akan menjadi pembicara, Suriansah menyambutnya dengan semangat. “Oh ya, boleh. Saya bersedia kalau demi kebaikan desa. Memang, kondisi di desa ini sangat butuh perbaikan,” ujar Suriansah.

Laporan tentang apa saja yang disampaikan Suriansyah dalam diskusi itu akan diturunkan dalam laporan tersendiri di Kompas cetak, sehingga tak perlu dimuat di sini. Yang jelas, Suriansyah kini sudah pulang kembali ke kampungnya. Menikmati hari-harinya sebagai transmigran di daerah pedalaman Kalimantan,  menikmati kembali jambannya yang tak harus membuatnya pusing tujuh keliling...

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau