BANDUNG, KOMPAS.com- Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat Ferry Sofwan Arif menegaskan bahwa pada bulan puasa banyak digelar kegiatan intervensi harga kebutuhan pokok. Namun, masyarakat harus bisa membedakan karena banyak jenisnya.
"Ada yang namanya Operasi Pasar, Pasar Murah, dan Operasi Pasar Murah," ujar Ferry, Senin (15/8/2011).
Ferry menerangkan, Operasi Pasar (OP) adalah program intervensi pemerintah pusat. Pemerintah daerah tinggal mengajukan kepada Bulog agar digelar Operasi Pasar. Salah satunya bila harga meningkat hingga 10 persen.
Pasar Murah adalah inisiatif yang dilakukan Pemprov (di Jabar oleh Badan Koordinasi Pembangunan dan Pemerintahan Wilayah Jabar dan berkoordinasi dengan perusahaan lainnya). Dananya menggunakan APBD Provinsi.
Jenis terakhir, lanjut Ferry, adalah Operasi Pasar Murah. Ini adalah bentuk intervensi dari Pemprov (Jabar dengan subsidi senilai Rp 38,5 miliar) yang ditujukan kepada rumah tangga sasaran.
Di Jabar, sasarannya 2,8 juta keluarga yang didata Badan Pusat Statistik pada tahun 2008. Komoditas yang diintervensi adalah beras, gula, dan minyak goreng. Ferry menegaskan bahwa intervensi tidak berarti harus membuat harga beras turun serendah-rendahnya meski berkontribusi paling besar dalam penghitungan angka inflasi.
Sebelum bulan Ramadhan, harga jual beras kualitas medium mencapai Rp 6.400-Rp 6.500, kini harganya merangkak ke kisaran Rp 7.200-Rp 7.400 per kilogram.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang