Awasi Usul Desentralisasi Fiskal Papua

Kompas.com - 16/08/2011, 19:19 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Eksekutif Imparsial Poengky Indarty menilai keinginan untuk melakukan desentralisasi fiskal dalam pembangunan di Papua yang disampaikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato kenegaraannya, harus tetap diawasi dengan ketat. Menurutnya, desentralisasi tersebut sama dengan kebijakan Otonomi khusus yang banyak mendapat kritikan, karena gagal mensejahterakan rakyat Papua.

"Desentralisasi tetap harus ada guidelines dan pengawasan ketat supaya dana dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk kepentingan rakyat, bukan untuk dikorupsi ramai-ramai oleh pejabat," ujar Poengky kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa (16/8/2011).

Poengky menuturkan, jika ingin menjadikan Papua daerah tujuan investasi, pemerintah terlebih dahulu harus berpihak pada rakyat dan memperhatikan kelestarian sumber daya alam. Selain itu, menjadikan Papua sebagai lahan ekonomi juga, seharusnya jangan lagi gunakan pendekatan keamanan untuk melayani pemodal.

"Karena yang seringkali terjadi adalah pemerintah justru terlihat memperunyam masalah di Papua dan menjauhkan dari akar masalah yang sebenarnya yaitu ketiadaan grand design dan guidelines untuk membangun Papua," tuturnya.

Sebelumnya, Presiden SBY dalam pidato kenegaraannya mengatakan, pemerintah menetapkan kebijakan guna menjamin pembangunan di Papua dapat benar-benar menuju kehidupan masyarakat yang semakin adil, aman, damai dan sejahtera. Di bidang politik, melalui otonomi khusus, Pemerintah telah memberikan kewenangan yang lebih luas untuk menjalankan pembangunan sesuai sumber daya yang dimilikinya

Selain desentralisasi fiskal, Presiden mengatakan Papua saat ini juga menjadi salah satu koridor ekonomi di dalam Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia. Menurut Presiden, kebijakan pemerintah yang lebih mengutamakan pendekatan pembangunan ekonomi, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat Papua.

"Jadi, kami tunggu niat serius Presiden untuk segera laksanakan dan janjikan untuk melakukan komunikasi konstruktif dengan rakyat Papua. Kita harap hal itu bisa dilakukan dengan baik sehingga kekerasan dan pelanggaran Hak Asasi Manusia di Papua dapat segera terselesaikan, dan masyarakat di sana dapat hidup tentram dan damai," kata Poengky.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau