JAKARTA, KOMPAS.com - Aksi kreatif dilakukan oleh para pelajar SMA Negeri 42 Jakarta dalam rangka memperingati HUT ke 66 Kemerdekaan RI. Dalam rangka mengenang peristiwa proklamasi Kemerdekaan RI, mereka mementaskan sosio-drama di Museum Perumusan Naskah Proklamasi Kemerdekaan, Jalan Imam Bonjol No.1, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (16/8/2011).
"Anak-anak mendramatisasikan peristiwa mulai dari perumusan naskah hingga pembacaan teks proklamasi oleh Soekarno dan Moh Hatta," kata Intan Pian, guru Sejarah SMAN 42 kepada Kompas.com.
Lebih lanjut Intan menjelaskan, jiwa nasionalisme dan apresiasi terhadap para pejuang dan sejarah kemerdekaan semakin terkikis dari benak generasi muda sekarang. Sebagai seorang guru, dia tidak ingin pelajaran sejarah hanya sebatas hafalan tanpa mengendap dalam benak para murid dan membentuk kecintaan kepada Tanah Air.
"Kalau hanya ceramah di kelas, sebentar juga hilang tak berbekas. Kalau dalam bentuk aksi, melakonkan peristiwa sejarah, mereka tidak hanya tahu, tapi juga ingat momen demi momen sejarah kemerdekaan," urai Intan.
Dia mengatakan, dengan mementaskan drama langsung di salah satu situs bersejarah, para pelajar akan dikenalkan pada tempat-tempat bersejarah.
Aditya (17), salah seorang pelajar SMAN 42 membenarkan pernyataan gurunya. Menurutnya, meskipun sangat dekat dengan tempat-tempat bersejarah nasional, dia dan teman-temannya selama ini kurang memiliki apresiasi terhadap museum, monumen dan tugu yang ada di Jakarta.
"Baru pertama kali. Ini juga karena ada pementasan (berkunjung ke Museum Perumusan Naskah Proklamasi)," kata Aditya.
Demikian pula dengan Tugu Proklamator dan Museum Djoeang. Tempat-tempat tersebut baru pertama kali dijejakinya saat mengikuti kegiatan ini.
Sosio-drama adalah pementasan drama yang para pemerannya membaur dengan pengunjung. SMAN 42 sendiri menampilkan kilas sejarah dengan diawali sekuel penindasan rakyat Indonesia di bawah penjajahan Jepang sebagai latar kisah.
Kisah utama menampilkan pertemuan Soekarno dengan sejumlah tokoh nasional dan tokoh pemuda, seperti Ahmad Subardjo, Chaerul Saleh, Sukarni, Sayuti Melik, dan BM Diah di salah satu rumah Laksamana Muda Tadashi Maeda, perwira penghubung Jepang, yang terletak di Jalan Imam Bonjol No. 1, Jakarta, 16 Agustus 1945 .
Para pemuda mendesak keduanya untuk segera memproklamasikan kemerdekaan karena adanya kabar mengenai kekalahan Jepang dalam perang Pasifik melawan Amerika Serikat dan sekutunya. Kedua tokoh nasional tersebut meminta para pemuda bersabar sambil menanti informasi yang valid. Untuk itu, mereka meminta bantuan Laksamana Maeda untuk bertemu dengan pimpinan Jepang di Indonesia, Laksamana Yamamoto.
Maeda kemudain mengantar mereka ke tempat Yamamoto. Karena telah larut malam, Yamamoto meminta mereka untuk bertemu wakilnya. Dari sana mereka mendapat informasi bahwa Jepang benar-benar telah mengaku kalah kepada sekutu.
Soekarno cs pun kembali ke rumah Laksamana Maeda untuk mengadakan pembicaraan lebih lanjut. Bersama para tokoh yang berkumpul di situ untuk membahas rencana selanjutnya. Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo kemudian merumuskan naskah Proklamasi Kemerdekaan di sebuah ruangan sekitar pukul 03.00 dini hari tanggal 17 Agustus 1945 .
Naskah tulisan tangan Soekarno diberikan kepada Sayuti Melik yang ditemani BM Diah untuk diketik di salah satu ruangan di rumah Maeda. Naskah ketikan disepakati hanya ditandatangani oleh Soekarno dan Hatta.
Naskah tersebut dibacakan Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Tempat tersebut saat ini menjadi Tugu Proklamasi atau Taman Proklamator. Sementara, rumah Laksamana Muda Maeda saat ini menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang