Prestasi bulu tangkis indonesia

Susi Susanti Prihatin, tetapi Masih Optimistis

Kompas.com - 18/08/2011, 18:58 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan ratu bulu tangkis Indonesia, Susi Susanti, sangat prihatin dengan hasil yang diraih para duta bulu tangkis Tanah Air dalam ajang Kejuaraan Dunia. Dalam event bergengsi yang berlangsung di Wembley tersebut pada 8-14 Agustus, Indonesia pulang dengan tangan hampa setelah dua wakilnya tersingkir pada semifinal (ganda putra Mohammad Ahsan/Bona Septano dan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir).

Meskipun demikian, Susi, yang mengibarkan bendera Indonesia di arena Olimpiade Barcelona 1992 setelah menjuarai nomor tunggal putri, masih menaruh harapan prestasi bulu tangkis Tanah Air bisa bangkit. Akan tetapi, wanita kelahiran 11 Februari 1971 ini meminta semua pihak harus segera membenahi diri sehingga target pada Olimpiade 2012 bisa terwujud.

"Saya sangat prihatin dengan hasil yang diraih para pemain Indonesia akhir-akhir ini, termasuk pada Kejuaraan Dunia, karena selalu gagal. Namun, kita jangan larut dalam kekecewaan ini. Yang penting, sekarang kita harus memikirkan tindakan nyata untuk bangkit dari keterpurukan, bukan sekadar evaluasi," ujar Susi, Kamis (18/8/2011).

Menurut Susi, yang pada Mei 2004 mendapat penghargaan Hall of Fame dari Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF), kini saatnya memberikan evaluasi yang detail, di samping rencana yang matang untuk membawa prestasi bagi seorang pemain untuk bisa naik lagi. Oleh karena itu, pemain, pelatih, dan pengurus harus duduk bersama membicarakan hal tersebut.

"Saya heran kenapa prestasi pemain Indonesia jalan di tempat sehingga negara-negara yang tidak punya nama dalam ajang bulu tangkis bisa menang. Ini pasti ada yang salah sehingga perlu evaluasi yang detail," ungkap Susi, merujuk kekalahan tunggal putri Indonesia, Adriyanti Firdasari, dari pemain Irlandia, Chloe Magee, pada babak pertama Kejuaraan Dunia.

"Di sini, peran pelatih yang sangat penting sehingga bisa melakukan pendekatan secara pribadi kepada pemain karena setiap pemain itu memiliki keunikan, jadi tidak bisa diperlakukan secara sama. Harus dibedah satu per satu, di mana letak persoalan setiap pemain."

"Di samping itu, sudah harus ada rencana untuk mengirim seorang pemain ke sebuah turnamen, dengan target harus bisa jadi juara. Ini semua dilakukan untuk membangkitkan kembali motivasi dan rasa percaya diri pemain. Semua itu merupakan bagian dari persiapan Indonesia untuk meraih prestasi pada Olimpiade 2012."

Bona/Ahsan dan Tontowi/Liliyana bisa jadi harapan

Melihat performa Mohammad Ahsan/Bona Septano dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir di Kejuaraan Dunia, Susi merasa optimistis Indonesia masih punya peluang besar untuk mempertahankan tradisi emas olimpiade. Akan tetapi, dua pasangan itu harus bisa belajar dari kegagalan tersebut dan terus menempa diri.

"Saya bangga karena Tontowi/Liliyana dan Bona/Ahsan bisa lolos sampai ke semifinal. Mereka bisa menjadi harapan kita pada masa mendatang karena pasangan-pasangan itu masih terbilang muda," ujar Susi, yang pada Olimpiade Atlanta 1996 menyabet medali perunggu.

Mengenai sektor lain, Susi melihat belum ada yang bisa diandalkan. Akan tetapi, ada sedikit peluang di sektor tunggal putra karena Indonesia punya Simon Santoso yang sebenarnya punya potensi membuat kejutan karena pernah mengalahkan pemain-pemain top.

"Saya tetap punya keyakinan para pemain Indonesia mampu memberikan prestasi. Di tunggal putra, Simon Santoso bisa mengalahkan pemain-pemain top seperti Lin Dan, Lee Chong Wei, dan Peter Gade. Artinya, Simon punya harapan melakukan itu pada olimpiade," pungkas Susi.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau