Wef-piasa

Komoditas Pertanian Akan Diasuransikan

Kompas.com - 19/08/2011, 10:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - World Economic Forum Partnership for Indonesia Sutainable Agriculture (WEF-PIASA) yang merupakan suatu kemitraan dengan World Economic Forum untuk mewujudkan sektor pertanian yang berkesinambungan, masih berada dalam tahap diskusi. Hingga kini pertemuan dalam forum ini baru dilakukan satu kali.

Hal ini disampaikan Corporate Affairs Lead Mosanto Indonesia, Herry Kristanto kepada Kompas.com, dalam acara buka puasa dengan wartawan, di Jakarta, Kamis ( 18/8/2011 ).

"Itu (WEF PIASA) kan semacam task force (pembagian tugas) untuk mengembangkan berbagai tanaman pangan, diantaranya kedelai, kakao, sama jagung. Kita ingin ini ada actionnya, bukan hanya sekedar (wacana)," ujar Herry.

Monsanto Indonesia sendiri merupakan salah satu dari 14 perusahaan multinasional yang merupakan inisiator dari WEF PIASA ini, selain Nestle, Sinarmas Group, hingga Astra International.

"Masih dalam tahap diskusi. Negosiasi (untuk menentukan) siapa melakukan apa," tambah dia. Ia pun menyebutkan pertemuan kedua akan dilakukan rencananya tanggal 23-24 Agustus ini.

Rencana aksi dari 14 perusahaan ini, tidak hanya sektor hulu pertanian, melainkan hingga pascapanen. "Masih ada perusahaan yang akan diikutsertakan, seperti perusahaan retail yang ingin mendapatkan pasokan bahan pangan, seperti kedelai," ucap dia.

Bahkan, rencana aksi juga akan meliputi pemberlakuan asuransi dalam produksi pertanian. Dengan begitu, lanjut dia, akan ada perusahaan asuransi yang dilibatkan. "(Namun) bentuknya seperti apa kita belum tahu," jelas dia, yang juga menyebutkan Monsanto sendiri terlibat dalam pengembangan komoditas jagung.

"Akan ada semacam pilot project. Katakanlah kita tempatkan di wilayah yang produksi jagungnya belum baik, misalnya (hanya) 3 juta ton per tahun," ungkap dia mengenai detail dari apa yang akan dilakukan Monsanto Indonesia.

Tidak hanya korporasi yang akan berdiskusi di forum ini. Pemerintah pun diikutsertakan. Ia menyebutkan jenis pendanaan proyeknya berbentuk public private partnership (PPP). Dalam forum ini, lanjut dia, Wakil Menteri Pertanian Bayu Krisnamurthi dan Wakil Menteri Perdagangan Mahendra Siregar sebagai semacam pemimpin forum dari pemerintah.

Seperti diberitakan, World Economic Forum on East Asia 2011 yang berlangsung beberapa waktu lalu, di Jakarta, telah menghasilkan kesepakatan untuk membentuk World Economic Forum Partnership for Indonesia Sutainable Agriculture (WEF-PIASA).

Hal ini disampaikan langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Hatta Radjasa. "Intinya sebagai berikut yaitu sebuah kemitraan dengan World Economic Forum untuk sektor pertanian yang berkesinambungan, yaitu apa yang kita sebut dengan World Economic Forum Partnership for Indonesia Sutainable Agriculture (WEF-PIASA)," tutur Hatta.

Kerjasama ini, lanjut dia, dibentuk dalam bentuk rangkaian pertukaran informasi dan implementasi inisiatif untuk menerapkan prinsip keberlanjutan bagi pertumbuhan sektor pertanian dalam membantu terwujudnya ketahanan pangan. "Dalam artian luas, tidak hanya rice saja, namun pangan secara luas," ungkapnya mengenai sasaran kerjasama tersebut.

Hatta pun menyebutkan, para peserta dalam pertemuan tersebut berkomitmen untuk konkrit yang disebut dengan 20-20-20 . "Artinya peningkatan produksi pertanian sebesar 20 persen, menurunkan emisi sebanyak 20 persen, dan mengurangi tingkat kemiskinan di pedesaan sebanyak 20 persen," tambah dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau