Yulia sapthiani
Saat ini, mereka yang keluar-masuk Pegadaian bukan cuma orang yang terlilit persoalan keuangan. Orang bisa meminjam modal usaha, menitipkan barang, hingga mencari keuntungan melalui pembelian logam mulia.
Inilah kisah seorang ibu yang tengah membutuhkan uang tunai dalam waktu cepat. Diana Azhari (35), pengusaha grosir buku yang memiliki tiga rumah dan sebuah toko, untuk pertama kali dalam hidup
menggadaikan barang ke Pegadaian Syariah di Solo. Ketika itu, dia tengah membutuhkan dana tambahan tunai ”cuma” Rp 10 juta.
”Waktu itu, uang tunai yang aku punya untuk kulakan kurang Rp 10 juta. Mau pakai uang bank, prosesnya lebih panjang. Padahal, kebutuhan aku hanya Rp 10 juta dan hanya untuk waktu seminggu. Pinjam saudara, enggak enak. Bongkar deposito juga sayang. Jadi, terpaksa ke Pegadaian,” tutur Diana.
Sesampainya di Pegadaian, Diana terperangah karena hanya butuh waktu sekitar lima menit untuk mendapat uang tunai dengan menggadaikan sebuah gelang emas. ”Aku enggak nyangka secepat itu prosesnya. Gelangku jadi seperti kartu ATM,” kata Diana.
Cerita lain datang dari Pegadaian Depok, Selasa (16/8) siang. Resti Karin (24) berada di antara nasabah yang akan menggadaikan barang. Seperti Diana, Resti juga membutuhkan uang untuk berbisnis. Resti menggadai perhiasan emas seberat 7,25 gram dan mendapat uang Rp 2.020.000, dengan jatuh tempo empat bulan dan bunga Rp 194.000.
”Itu untuk modal kue kering menjelang Lebaran. Tahun lalu, bisnis kue kering saya untung 100 persen dari modal. Jadi, labanya jauh di atas nilai bunga Pegadaian. Selesai Lebaran, seluruh perhiasan akan saya tebus lagi,” kata Resti yang sudah akrab dengan jasa gadai sejak kuliah tahun 2006.
Pegadaian juga menjadi dewa penolong bagi Surya (40), warga Kabupaten Bekasi, di kala ada kebutuhan mendadak. Suatu kali, Surya bahkan pernah mendapat keuntungan ketika menggadai emas. Ketika ingin menebus emas, dia justru disarankan petugas Pegadaian untuk menggadaikan lagi emasnya dengan nilai pokok lebih tinggi karena harga emas tengah naik. Surya mengikuti saran itu dan mendapat uang tunai lebih.
Sejak awal didirikan, Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian hanya punya satu produk layanan, yaitu gadai. Namun, kini, Pegadaian memiliki bermacam peran. Bagi masyarakat golongan menengah ke bawah, Pegadaian menjadi dewa penolong saat mereka mengalami kesulitan keuangan. Orangtua yang berkorban menggadaikan sejumlah barang berharga untuk membiayai sekolah anak adalah cerita yang bisa dijumpai di Pegadaian.
Di daerah Ngawi, Jawa Timur; Demak, Jawa Tengah; dan daerah pertanian lain, para orangtua yang menggadaikan traktor sebagai alat pencari nafkah menjadi fenomena menjelang tahun ajaran baru. Sementara itu, bagi yang lebih mapan dan mempunyai aset, Pegadaian membantu saat mereka membutuhkan dana tunai cepat dan ketika berburu logam mulia.
Corporate Secretary Perum Pegadaian Sriyanto mengatakan, meski diversifikasi produk sudah mencapai 15 jenis, yang menjadi favorit tetaplah gadai konvensional yang sekarang ini disebut Kredit Cepat Aman (KCA). Menurut Sriyanto, sebanyak 90 persen nasabah memilih menggunakan layanan KCA, dan 95 persen di antaranya mendapatkan dana tunai dengan menggadaikan perhiasan emas.
Selain KCA, Pegadaian membantu nasabah dengan menyediakan produk lain, seperti layanan pinjaman modal untuk berbisnis perorangan ataupun kelompok, jasa titipan, jasa taksir, dan produk-produk syariah. Diversifikasi ini dilakukan seiring dengan ekspansi kantor operasional ke sejumlah tempat pada 2008.
Data dari Perum Pegadaian memperlihatkan, jumlah kantor operasional pada 2008 yang berjumlah 2.089 unit meningkat tajam dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebanyak 902 unit. Sejak tahun 2008, jumlah tersebut bertambah sekitar 1.000 unit setiap tahunnya, dan ditargetkan akan mencapai 5.000 unit pada tahun ini. ”Kalau tadinya kantor Pegadaian berjarak 3 kilometer, sekarang ini jaraknya bisa hanya 10 meter dari rumah,” kata Sriyanto.
Di mal
Tak hanya menjamah perumahan, pasar, dan daerah yang menjadi kantong tempat tinggal mahasiswa, Pegadaian bahkan ditempatkan juga di mal, salah satunya di Mal Ambasador, Jakarta. Di sini, kantor Pegadaian berada di tempat strategis karena berdekatan dengan pintu masuk-keluar pengunjung.
Meski berukuran kecil dan hanya memiliki dua meja layanan, kondisinya cukup nyaman dengan ruangan berpendingin udara. Target nasabahnya adalah kalangan pebisnis, yaitu para pemilik toko, dan pengunjung mal yang kekurangan uang saat berbelanja. Dan, setelah dua tahun berjalan, produk KCA, gadai berlian, dan pengiriman uang menjadi yang paling banyak dipilih nasabah.
Pegadaian di Mal Ambasador ini hanyalah satu dari sembilan Pegadaian di mal yang berada di bawah pengawasan Pegadaian Cabang Mampang. Lainnya, antara lain, berada di ITC Kuningan, Pasar Festival, dan Kemang Point yang berada di kawasan elite Jakarta.
”Sasaran utama kami tetap kalangan menengah ke bawah. Namun, ketika ada peluang menggaet kalangan kelas atas untuk menjadi nasabah, mengapa tidak dicoba? Kami menyebarkan informasi tentang Pegadaian kepada warga di kawasan Kemang,” kata Pimpinan Cabang Pegadaian Mampang Agus Mustofa.
Penempatan diri di mal dan kawasan elite ini secara perlahan mengubah cara orang datang ke Pegadaian. Dulu, orang malu datang ke Pegadaian sampai-sampai mereka memakai joki atau yang lazim disebut kongkonan atau adang-adang (orang suruhan) di Jawa. ”Sekarang, citra masuk Pegadaian itu memalukan, terutama bagi kalangan yang lebih berpunya secara ekonomi, sudah mulai terkikis,” tutur Sriyanto.
Diana merasakan hal itu. Dia sempat merasa malu ketika untuk pertama kalinya memasuki kantor Pegadaian. ”Namun, sekarang, aku malah bangga. Menggadai itu artinya aku masih punya barang berharga untuk digadai,” katanya.