Khadafy Dicari sebagai Penjahat

Kompas.com - 23/08/2011, 06:37 WIB

KOMPAS.com — OPOSISI mengepung kompleks Bab al-Aziziya, Tripoli, Senin (22/8/2011). Mereka mencari "Sang Pemimpin", Moammar Khadafy, setelah menahan tiga anaknya. Belum diketahui di mana Khadafy. Dia diburu setelah enam bulan berperang dengan rakyatnya. Khadafy adalah model pemimpin yang lupa akan rakyatnya.

Bab al-Aziziya adalah jantung pertahanan rezim Khadafy. Di dalam kompleks seluas 6 kilometer persegi ini terdapat, antara lain, markas dan barak tentara, perpustakaan, serta kediaman Khadafy. Juga ada bangunan khusus untuk menerima diplomat atau pejabat asing dan lokal.

Lokasi kompleks ini strategis karena dekat ujung utara jalan menuju bandara internasional Tripoli, dengan akses langsung ke jalan bebas hambatan. Pasukan oposisi, Senin, mengepung kompleks yang dipagari tembok berwarna hijau itu setelah berhasil masuk Tripoli.

Oposisi mencari Khadafy sebagai penjahat perang dan kemanusiaan. Mereka yakin dia masih bertahan di bungker di kompleks itu, seperti kata-katanya bahwa sebagai pemimpin revolusi, dia akan bertahan "hingga tetes darah terakhir".

Keberadaan orang kuat Libya itu belum diketahui pasti. Dia memang tidak tampak di depan umum, beberapa minggu ini. Sumber diplomatik mengatakan, Khadafy masih di Bab al-Aziziya. "Dia masih di Tripoli dan bisa jadi di kediamannya di Bab al-Aziziya," kata sumber itu, yang bertemu Khadafy dalam dua minggu terakhir.

Kompleks itu terus digempur koalisi asing yang dipimpin Perancis, Inggris, dan AS sejak 19 Maret, yang kemudian dilanjutkan oleh NATO dengan misi penegakan zona larangan terbang di atas Libya. Sebagian besar bangunan di sini hancur.

Diplomat yang pernah berkunjung ke kompleks ini melaporkan, Khadafy memiliki banyak bungker untuk berlindung. Jika dia masih di sini, hampir pasti dia tidak lagi ditemani keluarganya, kecuali para pengawalnya. Masihkah pengawal yang cantik-cantik itu setia menjaganya?

Tiga dari delapan anaknya sudah berada di tangan oposisi. Saif al-Islam dan Saadi, anak dari istri keduanya, Safia Farkash, telah ditangkap. Muhammad, anak tertua, dan anak satu-satunya dari istri pertama, Fatiha, menyerahkan diri setelah rumahnya dikepung oposisi.

Keberadaan Khadafy memang masih simpang siur. Ada kabar, ia mencari suaka politik ke Afrika Selatan. Informasi itu dibantah Kementerian Luar Negeri Libya. Afrika Selatan juga membantahnya. Kabar lain, dia ke Venezuela untuk mendapatkan suaka politik dari sahabat karibnya, Presiden Hugo Chavez. Belum ada konfirmasi soal ini.

Safia dan putrinya, Ayesha, serta sejumlah orang lain keluar dari Libya lewat Tunisia, beberapa hari lalu. Mereka kini berada di Kepulauan Djerba. Ada yang menduga, Khadafy ikut dalam rombongan ini. Khamis, anak keenam dari perkawinan dengan Safia, tewas, beberapa waktu lalu. Belum diketahui kondisi anaknya yang lain.

Di mana pun Khadafy berada, rakyat sudah menang. Sebagai kapten, 1 September 1969, dia mengobarkan Revolusi Al Fatah dan mengudeta Raja Idris. Sejak itu, ia dipanggil "Sang Pemimpin".

Akibat terbenam dalam kursi empuk kekuasaan, dia lupa mengurus rakyatnya. Praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme merajalela. Rakyat muak karena dia lupa mengurus rakyatnya ketika terlena di kursi kekuasaan. (AFP/AP/REUTERS/Xinhua/ CNN/PASCAL S BIN SAJU)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau