Surat palsu mk

Polisi Jangan Takut dengan Penguasa

Kompas.com - 23/08/2011, 10:40 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ahmad Rifai, penasihat hukum tersangka Zainal Arifin Hoesein, mantan panitera Mahkamah Konstitusi (MK) menyebut, polisi sudah mengetahui auktor intelektualis kasus dugaan surat palsu MK dalam sengketa pemilu 2009 di daerah pemilihan Sulawesi Selatan I. 

Menurut Rifai, penyidik sudah memiliki cukup bukti untuk menjerat pelaku utama dalam kasus itu. "Polisi sudah tahu siapa aktor intelektualnya. Jangan tutup mata, ungkapkan. Jangan karena ada faktor-faktor kekuasaan di situ kemudian tidak berani memproses," ungkap Rifai ketika dihubungi Kompas.com, Selasa (23/8/2011).

Ia mempertanyakan penetapan kliennya sebagai tersangka. Pasalnya, kata dia, Zainal lah yang dipalsukan tandatangannya dalam surat palsu MK bernomor 112 tertanggal 14 Agustus 2009. Kasus itu lalu diadukan Zainal ke Bareskrim Polri atas perintah Ketua MK, Mahfud MD.

"Kalau tiba-tiba Pak Zainal dikorbankan ada apa? Pelapor malah dijadikan tersangka. Logika hukum apa yang dipakai? Mestinya polisi bisa melihat secara utuh kasus ini. Jangan mengkonstruksi hukum secara ngawur," kata Rifai.

 

Hingga saat ini, polisi baru menetapkan dua tersangka dalam kasus ini. Selain Zainal, tersangka lain adalah mantan juru panggil MK Masyhuri Hasan. Sejumlah nama yang terkait kasus ini adalah mantan Hakin Konstitusi Arsyad Sanusi, mantan anggota Komisi Pemilihan Umum yang kini menjadi politisi Partai Demokrat Andi Nurpati, Nesyawati Zulkarnain (putri Arsyad Sanusi), dan Dewi Yasin Limpo (caleg Partai Hanura yang bersengketa dalam kasus ini).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau