Pembunuhan

Livia Dikenal sebagai Gadis yang Sederhana

Kompas.com - 24/08/2011, 04:27 WIB

Kamar 3A2 yang biasa ditempati Livia Pavita Soelistio (20) terkunci, Selasa (23/8). Kamar yang terdapat di wisma indekos Ivory, Jalan Rawa Belong, RT 06 RW 12, Nomor 80, kini sudah tidak bertuan menyusul ditemukannya mayat mahasiswi Universitas Bina Nusantara tersebut dalam kondisi tewas tercekik. Ivory merupakan hunian indekos empat lantai yang dihuni laki-laki dan perempuan beda koridor.

Selain pendiam, Livia juga memang dikenal sebagai sosok yang sederhana. Ian (30), penjaga indekos Ivory, tidak pernah melihat Livia mengenakan pakaian bermerek ataupun baju ketat. ”Kalau teman-teman di sini, suka bilang dia itu seperti China kampung karena orangnya sangat sederhana,” kata Ian.

Jika pergi ke kampus, Livia hanya berbalut celana jins dan kaus oblong atau kemeja beserta sandal selop. Sesekali dia memakai sepatu coklat kasual bermerek Dallas. Kaus atau kemeja yang dikenakan pun biasanya tampak polos, jauh dari kesan mewah.

Livia jarang bertegur sapa dengan orang lain. Jika bertemu dengan penjaga indekos dan teman-teman satu indekosnya, dia hanya tersenyum dan mengangguk. ”Kalau jalan pun, ia menunduk,” ujar Ian.

Sepengetahuan Ian, Livia selalu pergi ke kampus sendirian. Tidak ada teman yang menjemput atau mengantar pulang seusai kembali dari kampus. Mahasiswi Jurusan Sastra Mandarin ini juga jarang membawa teman ke indekos, terlebih teman laki-laki. ”Kalau ada temannya yang datang, pasti Livia membuka pintu kamarnya. Jadi, kami tahu kalau ada temannya di dalam,” ujar Ian.

Sekitar sebulan lalu, seorang teman laki-laki Livia berkunjung ke kamarnya. Tidak ada lagi kunjungan lain setelah itu. ”Saya diberi tahu anak indekos sini yang tinggal di kamar seberang Livia. Tetapi, sepertinya teman biasa,” kata Ian.

Setiap hari, Livia biasa pulang ke indekosnya paling telat pukul 19.00. Jika keluar malam hari, biasanya dia hanya sebatas membeli makan malam. ”Selama jaga di sini, saya tak pernah lihat dia keluar malam untuk main,” kata Ian melanjutkan.

Jarang berinteraksi

Di lingkungan indekosnya, Livia dikenal sebagai perempuan yang jarang berinteraksi dengan teman indekos lain. ”Saya baru tahu yang meninggal dan diberitakan di koran itu ternyata tinggal di sini,” kata salah seorang penghuni indekos Ivory.

Ian menuturkan, tewasnya Livia membuat rekan-rekan di samping kamarnya khawatir. ”Sekarang mereka pada pulang karena takut. Tidak tahu takut untuk ditanyai polisi atau hal lainnya,” ujar lelaki yang menjaga Ivory sejak akhir 2009.

Sesuai dengan permintaan polisi, kamar Livia saat ini selalu dikunci untuk kepentingan penyidikan. Sesuai dengan yang dilihat Ian, polisi membawa buku harian, komputer, dan kotak BlackBerry milik Livia yang dijadikan petunjuk untuk mengetahui pembunuh Livia.

Livia meninggalkan indekos terakhir kali 16 Agustus pukul 08.06 dengan mengenakan kemeja putih polos, rok hitam, dan tas berwarna gelap. Ciri-ciri itu identik dengan mayat yang ditemukan di Cisauk, Tangerang, Minggu (21/8) malam.

Kepergian Livia terekam di kamera CCTV yang dipasang di setiap lorong indekos dan dapat disaksikan melalui ruangan penjaga indekos. ”Namun, rekaman di sini setiap empat hari sekali otomatis terhapus. Kemarin, polisi mau lihat tidak bisa karena sudah terhapus,” kata Ian.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Kebon Jeruk Ajun Komisaris Priyo Utomo Teguh mengakui, terdapat kemungkinan Livia dibunuh oleh orang yang kenal dekat dengannya jika menilik fakta bahwa Livia dicekik dari depan. ”Berbagai kemungkinan masih ada, apakah dibunuh teman dekatnya ataupun orang lain. Jika pelakunya sudah jelas, pasti kami beri tahu,” ucap Priyo. (ILO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau