Jam Tidur Wanita Lebih Panjang daripada Pria

Kompas.com - 24/08/2011, 10:28 WIB

KOMPAS.com — Perbedaan jender ternyata juga ikut berpengaruh dalam hal kualitas tidur. Kaum wanita tidur lebih nyenyak dan bangun lebih sedikit pada malam hari dibandingkan dengan pria. Mereka juga lebih bisa mengatasi efek kekurangan tidur yang dialami.

Perbedaan pola tidur ini mungkin menjelaskan mengapa wanita berusia lebih panjang daripada pria. Seperti diketahui, gangguan tidur diduga menjadi faktor risiko dalam penyakit kronis, seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular. Demikian ungkap para peneliti yang kini memfokuskan perbedaan pola tidur berdasarkan jender.

"Rata-rata wanita tidur lebih panjang daripada pria dan secara umum wanita lebih bahagia daripada pria. Kedua hal itu mungkin berkaitan," kata Daniel J Buysse, profesor psikiatri dari Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat.

Kebanyakan orang tidur bersama pasangan mereka. Namun, penelitian menunjukkan, tidur bersama orang lain menyebabkan kita akan lebih sering terbangun dan tidur kurang nyenyak. Kendati begitu, mayoritas orang mengatakan, mereka merasa lebih nyenyak saat tidur di samping orang yang dikasihi.

"Rasa nyaman dan aman dari pasangan akan membuat tidur lebih nyenyak," kata Wendy M Troxel, peneliti dalam bidang tidur dan pernikahan.

Secara umum, pria dan wanita memiliki jam tubuh yang berbeda. Pria memiliki periode sirkadian 24 jam atau 6-11 menit lebih panjang daripada wanita. Meski perbedaan itu terlihat sedikit, efeknya akan berlipat ganda setiap hari. Karena memiliki jam sirkadian lebih pendek, kaum wanita tidur dan bangun lebih awal.

Dalam sebuah penelitian terhadap 1.506 orang, 30 persen wanita mengaku tidur delapan jam atau lebih pada hari kerja. Sementara itu, hanya 22 persen pria yang menjawab hal yang sama.

Penelitian lain menunjukkan, wanita rata-rata tidur 7 jam 43 menit pada malam hari atau 19 menit lebih lama daripada pria. Wanita hanya butuh 9,3 menit untuk terlelap dan pria memerlukan waktu 23,2 menit.  

"Jam sirkadian yang panjang membuat pria sedikit lebih sulit memejamkan mata," kata Jeanne F Duffy peneliti dari Harvard Medical School, Boston.

Walau beberapa penelitian menyodorkan fakta tersebut, nyatanya cukup banyak wanita yang mengeluh mengenai tidur mereka dan mengatakan sulit memejamkan mata pada malam hari.

Menurut Buysee, wanita yang memiliki anak kecil memang sering merasa kekurangan tidur, padahal sebenarnya tidur lebih panjang dibandingkan dengan para ayah. "Banyak yang merasa kurang tidur karena mereka sering terbangun," katanya.

Riset juga menunjukkan, periode tidur gelombang lambat atau tidur dalam pada wanita lebih banyak. Periode tidur ini biasanya terjadi pada awal dan sangat penting untuk pembentukan daya ingat. Karena itu, wanita dianggap lebih mampu mengatasi dampak gangguan tidur.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau