Pendidikan

Kemdiknas akan Bangun Ribuan Kelas SMA dan SMK

Kompas.com - 24/08/2011, 13:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan Nasional (Dirjen Dikmen Kemdiknas) Hamid Muhammad mengatakan, Kemdiknas akan fokus membangun ribuan Ruang Kelas Baru (RKB) di sejumlah SMA dan SMK. Hal itu sebagai upaya untuk meningkatkan akses pendidikan menengah secara nasional. Untuk pembangunan RKB, Hamid mengaku mendapatkannya dari Rp 3,3 triliun anggaran Dikmen Kemdiknas yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) Kemdiknas sebesar Rp 11,7 triliun.

Hamid menjelaskan, hal mendesak dibuatnya kebijakan ini adalah fakta dilapangan bahwa besarnya jumlah siswa lulusan setingkat SMP yang tidak dapat melanjutkan pendidikan ke tingkat SMA karena berbagai alasan. Salah satunya adalah keterbatasan ruang kelas. Dari 4,2 juta siswa yang lulus SMP, hanya sekitar 3 juta siswa yang melanjutkan ke jenjang SMA. Fakta tersebut menandakan besarnya jumlah siswa lulusan SMP yang tidak melanjutkan ke SMA, yaitu mencapai sekitar 1,2 juta siswa.

Hamid mengatakan, hal ini sangat mengkhawatirkan. Pasalnya, rata-rata siswa lulusan SMP dinilainya belum mempunyai keahlian yang cukup untuk menghadapi persaingan dalam dunia pekerjaan.

“Anak SMP itu skillnya belum cukup. Ketika mereka tidak melanjutkan, maka walaupun bisa bekerja tetapi hanya bekerja di sektor informal dan anak-anak lainnya terpaksa menganggur. Ini sulit dan menjadi tanggung jawab negara,” kata Hamid, Selasa (23/8/2011), di Jakarta.

Oleh karena itu, jika APBN-P yang diusulkan oleh Kemdiknas disetujui oleh Komisi X DPR RI, akan dimanfaatkan untuk membangun empat ribu RKB untuk SMA dan empat ribu RKB untuk SMK. Tidak hanya itu, rencananya juga akan memprioritaskan pembangunan RKB kepada daerah yang masuk dalam program affirmative action dan daerah yang mengalami bencana alam.

“Itu masih ditambah program affirmative action, di NTT kita akan membangun 270 RKB dan di Lombok Utara kita bangun juga sekitar 50 RKB serta ditambah daerah bencana gunung Merapi dan Mentawai. Tetapi ini butuh waktu karena yang hancur adalah infrastrukturnya,” kata Hamid.

Hamid menjelaskan, jika mengikuti proporsi jumlah sekolah, yang paling banyak membutuhkan ruang kelas adalah Jawa, dan untuk menampung 1,2 juta siswa SMP yang tidak melanjutkan ke SMA setidaknya diperlukan sekitar 43 ribu ruang kelas. Karena itulah, dengan sangat tegas ia sampaikan, sekurang-kurangnya sampai lima tahun ke depan kebijakan ini akan terus digenjot. Namun begitu, Hamid mengatakan kebijakan ini belum bisa dipastikan akan berjalan sesuai rencana atau tidak. Pasalnya, keputusan disetujui atau tidak anggaran yang diusulkan oleh Kemdiknas baru akan diputuskan oleh Komisi X DPR RI paling cepat Rabu (24/8/2011).

Baginya, masalah lain akan tercipta jika anggaran yang diajukan oleh Kemdiknas tidak disetujui oleh Komisi X DPR RI. Karena pastinya anggaran yang diusulkan akan dipotong sehingga tidak mampu untuk menyokong kebijakan tersebut.

“Data sudah kita siapkan, begitu disetujui oleh Komisi X DPR RI maka akan kita proses pencairannya di Kementerian Keuangan. Tetapi kebijakan ini belum final dan masih bisa berubah. Karena besok baru akan diputuskan oleh DPR. Dengan program ini kita coba fokus berikan bantuan yang dapat mengcover semuanya dan kita berharap nantinya akan menjadi model bagi daerah lain” ujarnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Kemdiknas, daerah yang paling utama masuk dalam program afirmative action itu adalah NTT, selanjutnya adalah Maluku, Maluku Utara dan Aceh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau